212 : 8 Mutiara Perjalanan Cinta

Menulis tentang fenomena 212 memang tak akan ada habisnya. Terlepas dari pro dan kontra, cerita dan hikmah 212 selalu patut jadi renungan. Pun kali ini, perjalanan cinta menuju Monas untuk mengikuti acara reuni 212 sarat akan perjuangan. Tak sedikit yang akhirnya memutuskan untuk kembali sebelum sampai ke Monas karena kepadatan peserta yang datang, walaupun lebih banyak yang tetap berjuang untuk sampai, sekalipun acara inti reuni Akbar 212 hampir selesai, bahkan ada yang sampai ketika acara sudah selesai.

Masih tentang 212, kali ini lebih banyak cerita beragam. Selain tentang jumlah pesertanya yang fantastis hingga menembus angka 10 juta orang, ragam peserta baik dari latar belakang, maupun dari segi usia. Peserta kali ini banyak yang membawa serta anak-anaknya baik yang sudah beranjak remaja, usia SD maupun yang masih balita. Kali ini kami tidak akan membahas tentang pro dan kontranya para peserta membawa serta anak-anaknya dalam acara 212, namun lebih kepada perjalanan cinta dan perjuangan mereka untuk mengikuti acara 212 beserta anak-anaknya, seperti kisah perjalanan cinta kami menuju Monas kali ini.

Mengantri, berdesakan, kepanasan, berhimpitan di antara belasan juta jiwa dengan membawa 5 orang anak yang 3 orang diantaranya masih balita bahkan bayi berusia 3 bulan bukanlah hal yang mudah. Namun jika niat telah terpancang kuat  dan tekad sudah bulat, persiapan dilakukan sebaik mungkin, do’a telah dipanjatkan. Maka ikhtiar semaksimal mungkin diiringi rasa tawakal akan mampu menembus batas kesulitan yang bagi sebagian orang adalah tantangan yang mungkin enggan untuk dilakukan.

Seperti biasa selesai sholat subuh berjamaah, dilanjutkan dengan mempersiapkan 3 anak balita, mulai dari membangunkan, mempersiapkan mandi, baju yang akan dipakai dan pernaik-perniknya, 2 kakaknya membantu mempersiapkan keperluan yang akan dibawa,  Alhamdulillah persiapan berjalan lancar, karena memang sudah dari malamnya dipersiapkan, kemudian berangkat menuju stasiun Bogor dari rumah kami kurang lebih 30 – 45 menit perjalanan. Sampai stasiun Bogor sekitar pukul 7 pagi dan perkiraan akan sampai di stasiun Gondangdia sekitar pukul 8 lewat. Ternyata antrian tiket lumayan panjang, kemungkinan sebagian besar penumpang adalah yang memang berniat juga untuk menghadiri acara reuni Akbar 212 ini. Tampaknya mereka sama seperti kami yang menduga bahwa jika berangkat pada jam ini, maka kereta sudah tidak akan terlalu padat dibandingkan ketika berangkat habis subuh. Ternyata diluar dugaan, begitu hampir sampai di stasiun Gondangdia, ada pengumuman yang menyerukan agar para peserta yang akan menghadiri acara 212 bisa turun di stasiun Juanda,  karena kepadatan penumpang yang membludak di stasiun Gondangdia. Benar saja, begitu turun dari kereta di stasiun Gondangdia, sangat sulit bergerak menuju pintu keluar stasiun karena begitu padatnya orang yang masih tertahan untuk terus berjalan menuju Monas. Kemudahan kami rasakan justru karena banyak yang mempersilahkan kami berjalan lebih dulu agar anak-anak yang kami bawa tidak terhimpit.

Alhamdulillah, setelah sampai di luar stasiun Gondangdia dan menemukan udara segar setelah berhimpitan berjuang keluar dari stasiun, kami harus melanjutkan perjalanan yang penuh perjuangan menuju Monas karena kepadatan yang luar biasa belum pernah kami alami sebelumnya. Perjuangan terasa semakin berat dengan cuaca cerah dan teriknya matahari membuat semua peserta yang berjalan padat merayap tampak penuh dengan peluh keringat. Namun hebatnya, bukan keluhan atau sumpah serapah yang kami dengar saat kondisi seperti ini, melainkan gema takbir atau kumandang sholawat yang menyejukkan jiwa. Tak tampak wajah letih kepayahan, yang ada wajah-wajah penuh semangat dan senyum pertanda tekad yang bulat. Bahkan ada yang menyemangati dengan seruan bahwa ini adalah latihan agar tidak kaget ketika nanti melakukan ibadah haji ke Mekkah.

Pun bagi kami yang merasa makin bersemangat untuk sampai ke Monas, walaupun harus berdesakan, bahkan bergantian menggendong anak-anak kami. Kami bersyukur karena anak-anak kami tampak menikmati perjalanan cinta ini dengan tidak rewel atau menangis, bahkan sesekali ikut bersholawat atau bernyanyi. Banyak yang memandang iba kepada kami, namun kami hanya tersenyum dan meminta do’a kepada mereka agar kami dan anak-anak selalu diberikan kesehatan oleh Allah SWT. Akhirnya mendengar dan melihat semangat kami dan anak-anak, mereka mengaminkan do’a kami dan berusaha untuk memberi jalan kepada kami dan anak-anak. Sayangnya momen perjuangan perjalanan kami di tengah kepadatan peserta menuju ke Monas tidak sempat kami abadikan melalui kamera, hal ini karena tangan kami terlalu sibuk melindungi,  menggandeng dan menggendong anak-anak. Tak apalah, toh selfie memang bukan tujuan kami, tapi bersilaturahmi dan berkumpul bersama saudara-saudara kami dari berbagai penjuru tanah air dengan semangat dan tujuan yang sama untuk menegakkan kalimat Allah adalah niat dan tujuan kami melakukan perjalanan  cinta yang penuh perjuangan ini.

Masih tentang 212, membawa serta anak-anak dalam perjalanan ini mempunyai begitu banyak hikmah. Walaupun sempat beristirahat beberapa kali di berbagai tempat,  bahkan kami sempat melepas lelah di dalam bus Transjakarta. Keadaan sudah mulai lenggang walau masih ada beberapa kumpulan peserta yang sedang melaksanakan sholat Dzuhur. Kami sangat bersyukur karena masih bisa dimudahkan untuk sampai ke Monas walaupun sempat beberapa kali saat beristirahat kami bertanya kepada anak-anak, apakah mereka mau terus lanjut atau kembali pulang saja. Dengan kompak dan bersemangat mereka mengatakan tetap ingin melanjutkan perjalanan hingga sampai ke tujuan. Dan akhirnya kami sampai juga di Monas sekitar pukul 12 waktu Dzuhur dan anak-anakpun terlihat gembira sekali.  Ada beberapa mutiara hikmah dan pelajaran yang bisa kami dapatkan dalam perjalanan cinta ini, diantaranya adalah :

  1. Luruskan niat, bulatkan tekad, maksimalkan do’a, ikhtiar, dan tawakal. Sehingga seperti apa pun perjalanan dan seberat apapun perjuangan jika niat diluruskan maka akan sampai pada tujuan.
  2. Saling mendukung, jika dalam anggota keluarga saling mendukung, menyemangati, dan bekerja sama, maka perjalanan dan perjuangan akan semakin terasa ringan.
  3. Berprasangka baik, jika mampu terus berprasangka baik dalam setiap kondisi dan tidak mengeluh maka akan ada jalan kemudahan.
  4. Tidak menyerah, walaupun mungkin harus beristirahat sejenak untuk mengumpulkan energi kembali, tidak menyerah membuat kami sampai pada tujuan.
  5. Fokus, kami tetap fokus pada tujuan, bukan sekedar memulai namun tidak menyelesaikan.
  6. Bersemangat, karena bersemangat tanda kami mencintai. Melakukan apapun yang dicintai akan terasa lebih mudah dilakukan daripada memaksakan.
  7. Persiapan, mungkin perjalanan akan lebih sulit jika kami tidak punya persiapan yang cukup. Persiapan membuat kami lebih mudah menghadapi tantangan yang dihadapi.
  8. Perjalanan atau proses yang baik akan selalu mendatangkan kebaikan, berbuatlah kebaikan dan kelak kebaikan itu akan kembali.

Masih tentang 212,  hikmah dan perjuangan kami dalam perjalanan cinta kali ini tak kan pernah cukup walaupun dituliskan setebal apapun dalam buku, tidak akan ada yang bisa mewakili keindahan dan cinta yang tertanam di hati para peserta reuni 212 yang jiwanya tertaut pada satu ruh persaudaraan. Persaudaraan tanpa memandang rupa, usia, latar belakang, budaya, maupun agama. Kami melakukan perjalanan menuju Monas kali ini karena cinta dan dengan cinta, maka selamanya akan tertanam hikmah penuh cinta di hati kami untuk momen 212 ini dan semoga bertambah cinta karena Allah dan istiqomah di jalan cinta Nya. Aamiin.

Masih tentang perjalanan cinta 212, kami bertanya kepada anak-anak kami apakah mereka masih ingin mengikuti perjalanan cinta 212 yang akan datang, mereka dengan mantap menjawab masih, dan akan selalu siap melakukannya. Semoga kami masih bisa mendapatkan kesempatan untuk bersama-sama melakukan perjalanan cinta lainnya dalam persaudaraan yang indah untuk kebaikan ummat manusia di dunia ini. Aamiin.

[er]