Kontak Pertama PBB dengan Militer Myanmar

NAYPYIDAW, WARTABOGOR.id – PBB melakukan kontak pertama dengan militer di Myanmar sejak terjadinya kudeta awal pekan ini.

Hal tersebut disampaikan Sekjen PBB Antonio Guterres pada Jumat (5/2/2021), dan mengulang seruan agar para pemimpin sipil dibebaskan.

“Utusan khusus kami hari ini melakukan kontak pertama di mana dia menyatakan dengan jelas posisi kami kepada wakil komandan militer,” kata Guterres kepada wartawan.

Kontak pertama PBB diwakili oleh diplomat Swiss yang merupakan utusan khusus PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener.

Burgener juga dikatakan melakukan kontak dengan negara-negara lain di kawasan itu.

“Kami akan melakukan semua yang kami bisa untuk membuat komunitas internasional bersatu, dalam memastikan kudeta ini gagal,” kata Guterres dikutip dari AFP.

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi ditangkap pada Senin (1/2/2021) dan digulingkan dari kekuasaan.

Myanmar pun jatuh lagi ke pemerintahan militer setelah sempat 10 tahun menjadi negara demokrasi.

Guterres mencap kudeta itu benar-benar tak bisa diterima.

Namun, Dewan Keamanan PBB sejauh ini justru melunakkan tanggapan.

Terbaru mereka menyatakan keprihatinan mendalam atas kudeta Myanmar, mengubah pernyataan pada Selasa (2/2/2021) yang mengecamnya.

Para diplomat mengatakan, China dan Rusia yang memiliki hak veto dan pendukung utama Myanmar di PBB, meminta waktu lebih untuk menyempurnakan tanggapan dewan.

Sekjen PBB juga menyesalkan Dewan Keamanan tidak menyetujui pernyataan bersama tentang kudeta Myanmar, setelah pertemuan darurat yang digagas Inggris.

Kantor berita AFP mendapat draf teks yang diusulkan awal minggu ini untuk dinegosiasikan.

Di situ Dewan Keamanan PBB mengungkapkan keprihatinan atas kudeta Myanmar, mengecamnya, dan menuntut militer segera membebaskan orang-orang yang ditahan secara tidak sah.

Dewan juga akan menuntut agar kondisi darurat di Myanmar dicabut.