Di London, Identitas Islam Kembali Dihina, Dimana umat Islam?

Oleh: Dr. Hepi Andi Bastoni, M.A., M.Pd.I
(Ketua IKADI Kota Bogor)

Pada pertengahan Mei 2026, London kembali menjadi sorotan dunia. Bukan karena kemajuan demokrasi atau toleransi yang sering dibanggakan oleh negara-negara Barat, melainkan karena sebuah peristiwa yang menyayat hati umat Islam. Dalam aksi unjuk rasa anti-imigrasi bertajuk Unite the Kingdom yang dipimpin oleh aktivis anti-Islam, Tommy Robinson, terlihat tiga wanita tampil di atas panggung sambil melecehkan simbol-simbol Islam dan membuka niqab mereka di hadapan massa yang bersorak. Adegan tersebut terekam dan menyebar luas di media sosial. Banyak pihak menilai peristiwa itu bukan sekadar aksi politik, melainkan penghinaan terbuka terhadap ajaran Islam dan kehormatan perempuan Muslim.

Peristiwa itu terjadi pada tanggal 16 Mei 2026 di pusat Kota London. Aksi Unite the Kingdom sendiri diikuti oleh puluhan ribu orang dengan isu utama penolakan imigrasi serta sentimen negatif terhadap Islam. Polisi Inggris bahkan mengerahkan sekitar 4.000 aparat keamanan, dikarenakan khawatir akan terjadinya bentrokan dengan demonstrasi pendukung Palestina yang berlangsung di hari dan lokasi yang sama.

Tiga Wanita Provokator

Dalam demonstrasi tersebut, terjadi aksi provokatif yang dilakukan oleh tiga wanita yang mengenakan niqab, lalu melepaskannya di atas panggung di tengah sorakan hadirin. Di sela-sela aksi itu, terdengar pula penerapan slogan anti-Islam seperti “Christ is King”, serta sejumlah poster bertuliskan kalimat penghinaan. Akibat peristiwa itu, polisi Inggris sempat menangkap beberapa orang yang diduga terlibat dalam penyebaran ujaran kebencian.

Aksi ini dipimpin langsung oleh Tommy Robinson, tokoh sayap kanan ekstrem di Inggris yang sudah lama dikenal dengan retorikanya yang anti-Islam. Massa yang hadir sebagian besar merupakan kelompok nasionalis kanan, aktivis anti-imigrasi, serta simpatisan gerakan identitas kulit putih di Eropa. Peristiwa ini berlangsung pada hari Sabtu, 16 Mei 2026 di pusat Kota London, terutama di sekitar kawasan Parliament Square dan Whitehall.

Demonstrasi ini dipicu oleh sentimen anti-imigrasi serta ketakutan buatan terhadap meningkatnya populasi Muslim di Inggris. Narasi yang dibangun adalah bahwa identitas bangsa dan agama Kristen di Inggris sedang “terancam” oleh proses Islamisasi.

Melalui panggung propaganda massa ini, simbol Islam dijadikan bahan ejekan publik untuk memancing emosi hadirin serta membangun solidaritas kelompok sayap kanan ekstrem. Media sosial kemudian memperluas jangkauannya, hingga video penghinaan tersebut menyebar secara viral ke seluruh dunia.

Umat Islam Bungkam

Hal yang menyakitkan bukan hanya aksi penghinaannya, melainkan kenyataan bahwa hampir dua miliar umat Islam di dunia nyatanya tidak mampu berbuat banyak, selain sekadar mengecam melalui media sosial. Reaksi yang muncul dari dunia Islam sebagian besar hanya berupa pernyataan kemarahan, kutukan, dan tagar di dunia maya. Belum ada tekanan geopolitik yang berarti, maupun tindakan nyata dari negara-negara berpenduduk Muslim. Bahkan, banyak pemerintahan di negara Muslim justru masih sibuk menangani konflik internal serta mementingkan kepentingan masing-masing.

Padahal, penghinaan terhadap agama bukanlah sekadar persoalan simbol belaka. Bagi umat Islam, kehormatan agama adalah kehormatan seluruh umatnya. Ketika simbol Islam dihina secara terang-terangan di hadapan publik, sementara dunia hanya diam menyaksikan, hal itu menunjukkan betapa lemahnya posisi politik umat Islam saat ini.

Ketika Umat Islam Masih Memiliki Izzah

Mari kita bandingkan dengan peristiwa di masa Rasulullah ﷺ, setelah terjadinya Perang Badar. Dalam riwayat sejarah disebutkan bahwa pernah ada seorang perempuan Muslimah di pasar Bani Qainuqa yang diganggu dan dihina oleh seorang warga Yahudi. Pakaiannya diikat sedemikian rupa hingga auratnya tersingkap saat ia berdiri. Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau tidak menganggapnya sebagai perkara sepele. Akhirnya, Bani Qainuqa harus diperangi dan diusir dari Madinah karena dianggap telah mengkhianati perjanjian, hanya karena peristiwa yang melecehkan kehormatan seorang Muslimah. Dalam pandangan Islam saat itu, kehormatan seorang Muslimah bukanlah hal remeh, karena ia berkaitan dengan marwah umat dan kewibawaan negara.

Demikian pula kisah masyhur tentang seorang Muslimah yang dihina di kota Ammuriyah oleh seorang tentara Romawi. Wanita itu berteriak memanggil, “Wa Mu’tashimah!” sebagai seruan kepada Khalifah al-Mu’tashim. Ketika kabar itu sampai ke telinga sang khalifah Bani Abbasiyah, ia dikisahkan bersumpah akan memenuhi panggilan tersebut dengan mengerahkan pasukan yang sangat besar. Akhirnya, pasukan Abbasiyah bergerak menuju Ammuriyah hingga pasukan Romawi menjadi ketakutan dan meminta maaf. Terlepas dari detail sejarahnya yang masih diperdebatkan sebagian sejarawan, kisah ini tetap hidup dalam ingatan peradaban Islam sebagai simbol izzah: kehormatan umat Islam tidak boleh diinjak-injak begitu saja.

Bandingkan dengan Kondisi Hari Ini

Di London, simbol Islam dihina secara terang-terangan, namun tanggapan dunia Islam hanya sebatas kecaman. Di Gaza, puluhan ribu jiwa gugur, kota hancur lebur, anak-anak kelaparan, dan rumah sakit dibom, namun dunia Islam tetap terpecah belah. Bahkan upaya bantuan kemanusiaan seperti Global Sumud Flotilla pun nyatanya belum mampu mengubah keadaan secara signifikan. Kapal bantuan diblokade, tekanan internasional terasa lemah, dan negara-negara Muslim sebagian besar hanya mampu mengeluarkan pernyataan diplomatik semata.

Ini adalah potret pahit umat Islam masa kini: jumlahnya sangat banyak, namun lemah dalam pengaruh politik. Kaya akan sumber daya alam, namun miskin persatuan. Berpenduduk hampir dua miliar jiwa, namun sering kali tidak mampu melindungi kehormatan agamanya sendiri.

Peristiwa di London seharusnya tidak hanya menjadi berita viral yang hilang begitu saja dalam beberapa hari. Peristiwa ini adalah peringatan keras bahwa Islamofobia kini sudah tidak lagi malu tampil di ruang publik negara-negara Barat. Simbol-simbol Islam dijadikan bahan ejekan politik demi mendapatkan tepuk tangan dari pendukungnya. Selama umat Islam masih terpecah belah, penghinaan serupa dipastikan akan terus berulang.

Dahulu, ketika satu orang Muslimah dihina, pasukan bergerak membela. Hari ini, jutaan Muslim dihina dan dibantai, namun dunia Islam masih sibuk dengan sekat nasionalisme, kepentingan ekonomi, serta konflik sesama saudara seiman.

Inilah refleksi paling menyakitkan bagi kita di zaman sekarang.