Indonesia Jadi Model Global Sistem Kesehatan: Cara Pemberantasan Frambusia Mengubah Dunia  

JAKARTA-WARTA BOGOR – Sistem kesehatan Indonesia pernah menjadi contoh bagi dunia dalam upaya pemberantasan penyakit, khususnya pada dekade 1950-an saat menangani penyakit menular bernama frambusia (yaws).

Menurut WHO, frambusia adalah penyakit infeksi kronis yang disebabkan oleh bakteri Treponema. Meskipun tidak mematikan, penyakit ini memiliki dampak serius: penderita bisa mengalami luka terbuka, kerusakan jaringan, hingga cacat permanen yang membatasi kemampuan bekerja dan beraktivitas.

Sebagai negara tropis, Indonesia menjadi daerah yang rentan terhadap penyebaran frambusia. Kondisi lingkungan yang belum optimal, seperti permukiman padat, sanitasi buruk, dan tingkat kebersihan masyarakat yang rendah, membuat penyakit ini menyebar luas terutama di pedesaan. Oleh karena itu, frambusia masuk dalam daftar penyakit prioritas yang harus diberantas.

Sebelumnya, sejak masa kolonial sudah dilakukan upaya pengobatan dengan pemberian penisilin, namun hanya bersifat tambal sulam. Penyakit sering muncul kembali karena akar permasalahan terkait lingkungan dan pola hidup belum tersentuh.

Titik balik datang pada awal 1950-an berkat dokter Indonesia bernama Raden Kodijat. Sejarawan Vivek Neekalantan dalam bukunya Memelihara Jiwa Raga Bangsa (2018) menyampaikan bahwa Kodijat sudah merintis pendekatan berbeda sejak tahun 1934. Dia menyadari bahwa frambusia tidak bisa diberantas hanya dengan mengobati pasien yang datang berobat, melainkan harus dikejar sampai ke sumbernya.

Metode Kodijat berfokus pada pendeteksian aktif: seluruh populasi di suatu wilayah diperiksa secara sistematis untuk mencari gejala frambusia. Mereka yang teridentifikasi—baik penderita maupun mereka yang memiliki kontak langsung dengan luka frambusia—langsung diobati hingga sembuh. Pengobatan dilakukan secara berkala dengan suntikan setiap minggu, disertai pemeriksaan ulang untuk memastikan infeksi benar-benar hilang dan tidak kambuh. Pendataan yang ketat menjadikan metode ini salah satu strategi epidemiologi paling maju pada masanya.

Kampanye besar-besaran dilakukan pada periode 1951-1956. Dalam lima tahun, upaya tersebut berhasil menjangkau sekitar 85% penduduk Indonesia dan angka penderita turun drastis. “Persentase kejadian frambusia keseluruhan pada akhir periode lima tahun menurun dari 20% pada tahun 1951 menjadi 1% pada tahun 1956 sebagai akibat dari peningkatan deteksi kasus, pengobatan dugaan pasien frambusia, dan survei ulang untuk menentukan kasus kambuhan,” jelas Vivek.

Prestasi ini menarik perhatian dunia internasional, menjadikan Indonesia sebagai model global dalam pengendalian penyakit akibat bakteri Treponema. Pada periode 1950 hingga pertengahan 1960-an, Indonesia berperan penting dalam proyek internasional pengendalian frambusia yang disponsori WHO dan UNICEF, yang dipimpin oleh Raden Kodijat bersama Soetopo (mantan Menteri Kesehatan Januari-September 1950). Pengalaman Kodijat sebagai dokter daerah di Kediri pada 1930-an menjadi fondasi utama kebijakan internasional tersebut.

Negara-negara seperti Malaya, Thailand, Haiti, Jamaika, dan Nigeria kemudian mengadopsi sistem pemberantasan penyakit ala Indonesia, dengan hasil yang sangat memuaskan. Jumlah penderita frambusia di negara-negara tersebut turun drastis, hingga akhirnya penyakit ini tidak lagi menjadi ancaman yang menakutkan.

Sumber: cnbcindonesia.com