WARTA BOGOR – Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk seluruh lalu lintas pelayaran. Mereka bahkan mengancam akan membakar kapal yang mencoba melintasi jalur strategis tersebut.
Pengumuman tersebut, yang disampaikan pada hari Senin, menandai salah satu eskalasi geopolitik paling signifikan dalam konflik bersenjata yang sedang berlangsung antara Iran di satu sisi dan Israel serta Amerika Serikat (AS) di sisi lain.
Brigadir Jenderal Sardar Ebrahim Jabari, penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, mengumumkan penutupan selat tersebut. “Selat (Hormuz) ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan Angkatan Laut reguler akan membakar kapal-kapal tersebut,” kata Jabari.
Pengumuman itu muncul beberapa hari setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan gabungan AS-Israel, sebuah peristiwa yang telah meningkatkan ketegangan secara tajam di seluruh Timur Tengah.
Selat Hormuz adalah mulut sempit Teluk Persia yang dilalui sekitar seperlima minyak dunia. Kapal tanker yang melewati selat tersebut, yang berbatasan di utara dengan Iran, membawa minyak dan gas dari Arab Saudi, Kuwait, Irak, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab (UEA), dan Iran. Sebagian besar minyak tersebut dikirim ke Asia.
Gangguan apa pun terhadap lalu lintas melalui Selat Hormuz sangat mengganggu perdagangan minyak.
Menurut laporan AP, Selasa (3/3/2026), Selat Hormuz dikenal sebagai jalur air sempit dan melengkung dengan lebar sekitar 33 kilometer (21 mil) di titik tersempitnya, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan, dari sana, ke jalur laut global.
Meskipun Iran dan Oman mengendalikan perairan teritorial di sepanjang jalur tersebut, selat ini secara luas diakui sebagai jalur air internasional yang berhak dilalui oleh kapal-kapal komersial. Uni Emirat Arab, termasuk kota pelabuhan Dubai, terletak tepat di luar selat. Saluran ini telah lama menjadi pusat perdagangan global.
Meskipun Arab Saudi dan UEA mengoperasikan jalur pipa terbatas yang melewati selat tersebut, Badan Informasi Energi AS mengatakan bahwa sebagian besar volume energi yang bergerak melalui Hormuz tidak memiliki jalur keluar alternatif yang layak dari wilayah tersebut.
Pembalasan Iran terhadap serangan terkoordinasi AS-Israel, sejauh ini, melibatkan rentetan tembakan rudal ke negara-negara tetangganya di Teluk yang menampung pangkalan militer AS seperti Qatar, Kuwait, dan Bahrain. Teheran juga menembakkan rudal ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Oman.
Sumber: SINDOnews.com