Polbangtan Kementan Dorong Transformasi Pertanian Presisi

BOGOR-WARTA BOGOR — Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor kembali memperkuat perannya dalam mendorong transformasi pertanian modern melalui webinar Milenial Agriculture Forum (MAF) Volume 7 Edisi 41, yang dilaksanakan pada Sabtu (10/10). Mengusung tema “Mewujudkan Pertanian Presisi Masa Depan: Sinergi Inovasi, Fasilitasi, dan Adopsi Teknologi Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM‑AAS)”, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi untuk memperluas wawasan serta mempercepat adopsi teknologi pertanian di kalangan petani, penyuluh, peneliti, dan generasi muda di bidang pertanian.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber kunci, yaitu Kepala Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Penyuluhan Pertanian (BRMP) Jawa Barat, Dr. Detia Tri Yunandar, S.P., M.Si.; Penyuluh Pertanian Kota Tasikmalaya, H. Asep Jajang Sidik, S.P.; serta petani dari Kota Tasikmalaya, Agus Cahyadi. Webinar ini dipandu oleh Rani Sri Wardani dan Ridho Ganda Saputra, keduanya merupakan mahasiswa tingkat II Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan.

Penyelenggaraan kegiatan ini sejalan dengan komitmen Kementerian Pertanian dalam memperkuat modernisasi pertanian melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas, serta pengembangan sumber daya manusia pertanian yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan pentingnya modernisasi dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional. Pertanian harus bergerak lebih maju melalui mekanisasi, inovasi, dan peningkatan efisiensi agar mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani. Semangat tersebut menjadi landasan bagi pengembangan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM‑AAS), yang mengedepankan penerapan teknologi dan pengelolaan usaha tani secara lebih presisi. Melalui pendekatan ini, proses budidaya diharapkan menjadi lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya penguatan kapasitas sumber daya manusia pertanian sebagai kunci keberhasilan transformasi pertanian. Penguasaan teknologi harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi petani, penyuluh, serta generasi muda agar inovasi yang dikembangkan dapat diterapkan secara nyata di lapangan. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga pendidikan, peneliti, penyuluh, dan petani menjadi faktor penting dalam membangun ekosistem pertanian modern. Dengan dukungan pendidikan dan pendampingan yang berkelanjutan, teknologi pertanian diharapkan tidak hanya menjadi inovasi, tetapi juga solusi yang memberikan manfaat langsung bagi pelaku usaha tani.

Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, menegaskan bahwa lembaganya tetap aktif berperan dalam proses transformasi menuju pertanian yang lebih modern, produktif, dan berkelanjutan. Ia juga menempatkan kegiatan edukasi dan pertukaran pengalaman sebagai sarana untuk memperkuat hubungan antara pendidikan vokasi pertanian dan kebutuhan pembangunan pertanian nasional. Melalui forum semacam ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bahwa keberhasilan inovasi tidak hanya diukur dari kecanggihan teknologi, tetapi juga dari manfaatnya bagi petani dan keberlanjutan usaha tani.

Melalui MAF Volume 7 Edisi 41, Polbangtan Bogor terus mendorong sinergi antara lembaga pendidikan, peneliti, penyuluh, dan petani untuk memperluas penerapan PM‑AAS. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat adopsi teknologi pertanian presisi sekaligus memperkuat kapasitas sumber daya manusia pertanian. Upaya ini menjadi bagian dari langkah bersama untuk mewujudkan pertanian Indonesia yang semakin modern, efisien, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat peran generasi muda sebagai penggerak inovasi menuju ketahanan pangan nasional.(wsd)