WARTA BOGOR – Isi tas seberat sekitar 30 kilogram yang dibawa para calon manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) saat mengikuti latihan dasar militer (Latsarmil) mulai terungkap di tengah sorotan publik terhadap program tersebut.
Latihan dasar militer bagi calon manajer Kopdes belakangan menjadi perhatian setelah anggaran pelaksanaannya dikritik oleh anggota DPR RI.
Anggota Komisi I DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Mayjen TNI (Purn) Tubagus Hasanuddin, mengungkapkan biaya latihan militer mencapai sekitar Rp30 juta per peserta. Sementara pelatihan substansi koperasi diperkirakan menghabiskan Rp15 juta per orang.
Program pelatihan tersebut terdiri atas 30 hari latihan militer dan 15 hari pembelajaran mengenai pengelolaan koperasi.
Dengan jumlah peserta mencapai 35.476 orang, anggaran yang dibutuhkan menjadi sorotan karena nilainya mencapai triliunan rupiah.
Seorang peserta calon manajer KDMP membagikan momennya sebelum mengikuti latihan militer.
Diungkapnya, tas bekal yang diberikan memiliki berat hingga 30 kilogram.
Tiap peserta rupanya diberikan pakaian, tas, hingga peralatan makan.
Berikut adalah isi tas 30 kilogram sebagai bekal calon manajer selama mengikuti latihan militer:
- Kaos loreng 4 set
- 2 topi (loreng dan cokelat)
- Botol minum
- Sepatu olahraga (kegedean)
- Baju kaos putih dan celana training
- Tas ransel kecil
- Baju PDL 2 set
- Ransel besar
- Sepatu PDL (kegedean)
- Handuk
- Matras
- Tanda pengenal di bahu
- Buku saku
- semir sepatu
- Gelas dan sendok serta garpu
- Kaos kaki 4 pasang
- Ikat pinggang
Kritikan anggota DPR RI
Hasanuddin menilai anggaran pelatihan akan jauh lebih efisien apabila komponen latihan militer dihapus dan peserta difokuskan pada peningkatan kemampuan manajerial.
“Berdasarkan kriteria pelatihan untuk tujuh hari itu menghabiskan Rp 5 juta per peserta, maka total kebutuhan anggaran selama 45 hari mencapai sekitar Rp 45 juta per orang. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp 30 juta digunakan untuk pelaksanaan latihan militer, sedangkan Rp 15 juta untuk pembelajaran substansi koperasi,” ungkap Hasanuddin dilansir dari Kompas.com.
Karenanya menurut Hasanudin, jika latihan militer ditiadakan untuk calon manajer, maka negara akan menghemat anggaran sampai triliunan.
“Artinya, apabila latihan militer dihilangkan, negara dapat menghemat sekitar Rp 30 juta atau sekitar dua pertiga dari total biaya pelatihan setiap peserta,” pungkasnya.
Sumber: TribunnewsBogor