KARANGASEM-WARTABOGOR.id – Pandemi COVID 19 sebenarnya bisa dimanfaatkan peluangnya dalam penyediaan pangan bagi masyarakat. Salah satunya adalah Gede Jamur di Karangasem, Bali.
Gede Jamur merupakan usaha yang didirikan pada 2015 oleh I Gede Artha Sudiarsana di Banjar Dinas Pipid Laga, Desa Pipid, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem – Bali. Jamur menjadi komoditas pertanian yang banyak dikembangkan petani lokal di Bali.
Gede Arta mendirikan usaha di bidang pertanian agar bisa berkontribusi nyata untuk pertanian dan pangan di Indonesia. Awalnya Gede Arta ingin mengubah image petani yang selama ini diindentikkan dengan tua, kemiskinan, pekerjaan kotor, dan kurang berpenghasilan menjadi petani yang muda, keren, menguntungkan, dan kekinian.
Gede Artha memilih usaha jamur mengingat potensi di wilayahnya. Karangasem adalah salah satu sentra kerajinan kayu, yang menghasilkan banyak limbah serbuk gergaji. Kini, sampah itu tak lagi berserakan, tapi diolah menjadi media tanam jamur.
Usaha Gede Jamur menyediakan jamur tiram, jamur kuping, bibit jamur f2, boglog (media tanam jamur), dan olahan jamur. Gede Artha juga menjadi konsultan budidaya jamur.
Ditengah wabah covid-19, usaha Gede Jamur masih terus berjalan. “(Awalnya sempat) khawatir juga, kan pasar juga sekarang jam bukanya dibatasi sedangkan hasil panen kebanyakan diambil pedagang,” ujar Duta Pertanian Muda 2016 tersebut.
Usaha Gede Jamur juga terus berkembang dengan membuka Cafe “Filosofi Jamur” di daerah Badung, menunya adalah aneka streetfood berbahan dasar jamur. “Sudah jalan tiga bulan, tapi tutup dulu karena situasi (Covid-19) gini”, kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Udayana tesebut. Sedangkan untuk produk olahan jamur, sudah mengurus perizinan dan masih menunggu izin produknya keluar.
Selama wabah Gede Artha mengaku mengalami penurunan omzet, “Kalau omzet turun tapi nggak drastis banget, kalau kemarin (sebelum covid-19) panen 40kg/hari, sekarang 30kg/hari. Omzet sebelum (covid-19) kisaran 30 juta, kalau sekarang ini paling 20 juta (perbulan),” tuturnya.
Gede Artha juga berpesan kepada anak muda yang menggeluti usaha dibidang pertanian “Kalau usaha pertanian kan bakal dibutuhkan terus sepanjang manusia hidup dan butuh makan. Apalagi disaat pandemi begini, pangan sehat pasti dibutuhkan. Intinya fokus dan konsisten dalam bertani,” jelasnya
Ucapan Gede Artha senada dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dedi Nursyamsi. Mentan Syahrul menaruh harapan pertanian pada generasi milenial. Menurutnya, milenial harus berani menjadi petani atau mendirikan startup pertanian. “Usaha pertanian itu paling pasti untuk dilakukan. Selain untuk ekonomi, bisa juga membuka lapangan kerja,” ujarnya..
Kepala BPPSDMP, Prof. Dedi menyebut bahwa pencegah utama COVID 19 adalah pangan. “Sehingga, dalam ketersediaan pangan ini ada peluang bisnis yang bisa dimanfaatkan oleh petani milenial. Dari mulai on farm hingga distribusi melalui online sistem,” urainya dalam setiap kesempatan.
Pewarta : Ni Kadek Karisma Dewi – Polbangtan Bogor
Editor : Ar