6 Fakta Penipuan Grab Toko yang Rugikan Korban Rp 17 M

JAKARTA – WARTABOGOR.id – Kasus penipuan melalui penjualan daring atau e-commerce ternyata masih marak. Terbaru, sejumlah konsumen layanan grab toko ditipu oleh pemilik lantaran barang yang mereka pesan tak kunjung tiba.

Sejumlah pembeli menyampaikan kronologi penipuan tersebut di media sosial twitter. Salah satu konsumen grab toko yang masuk perangkap penipu itu adalah pemilik akun @ChardKurniawan.

Ia mengunggah bukti transaksi pembelian dua buah handphone melalui grab toko pada 29 Desember 2020 dan 3 Januari 2021. Handphone pertama bermerk samsung galaxi A51 seharga Rp 2.349.000 dan hand phone kedua bermerk Apple iPhone 12 Pro Graphite seharga Rp 12.024.000. Namun pesanannya tersebut tak kunjung datang.

“Uji nyali beli hp di Grab Toko, semoga beneran dikirim barangnya,”tulisnya dikutip dari akun twitternya, Rabu (13/1).

Sayangnya, ponsel yang dibeli tersebut tak kunjung datang. Berikut sejumlah fakta-fakta yang menyangkut penipuan oleh Grab Toko.

1. Jumlah Korban 980 orang

Jumlah korban mencapai 980 orang dengan kerugian mencapai Rp 17 miliar. Direktur Tindak Pidana Siber Mabes Polri Brigadir Jenderal Slamet Uliandi mengatakan barang-barang yang ditawarkan di Grab Toko ternyata tidak dikirim ke pembeli usai transaksi dilakukan.

“Hanya sembilan costumer yang menerima pesanan tersebut. Dan sembilan barang yang dikirimkan kepada costumer itu ternyata dibeli pelaku di ITC oleh pelaku dengan harga normal,” kata Slamet dalam keterangan resmi, Selasa (12/1).

2. Modus Penipuan
Slamet menjelaskan modus kasus dugaan penipuan Grab Toko untuk memikat calon pembeli dalam situsnya. Tersangka menawarkan berbagai macam barang elektronik dengan harga yang sangat murah.

Dia menuturkan pemilik toko Yudha Manggala Putra mengelola situs menggunakan hosting dari luar negeri. Slamet menuturkan pengelolaan situs itu dilakukan pihak ketiga.

“Pelaku minta bantuan pihak ketiga untuk membuat website belanja daring. Website ini juga diketahui menggunakan hosting dari luar negeri,” katanya.

Dalam mengelola Grab Toko, Yuda menyewa kantor di kawasan kuningan, Jakarta Selatan. Di sana ia memiliki enam karyawan yang bertugas sebagai costumer service. Para karyawan itu bertugas menjawab para konsumen yang mengeluh karena pesanan tak kunjung datang.

3. Investasi kepada Mata Uang Kripto

Slamet juga mengatakan Yudha diduga menginvestasikan uang hasil kejahatannya tersebut ke dalam bentuk cryprocurrency atau mata uang kripto. Berdasarkan penuturannya, Yudha mendapatkan bantuan dari Bank BCA, Bank BNI, dan Bank BRI.

Oleh karenanya, Yudha yang kini ditangkap pihak berwajib, dijerat oleh pasal mengenai pencucian uang, yakni pasal 28 ayat (1) juncto Pasal 45A ayat (1) UU ITE dan atau Pasal 378 KUHP dan atau pasal 82 dan atau Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2011 tentang transfer dana.

4. Rekening Diblokir
Sementara itu, manajemen bank BCA mengaku telah memblokir rekening toko e-commerce yang diduga melakukan penipuan tersebut. Excecutive Vice President Secretariat and Corporate Communication BCA Hera F Haryn mengungkapkan rekening atas nama e-commerce tersebut tidak lagi dapat melakukan transaksi.

“Dapat kami sampaikan bahwa BCA telah melakukan penundaan transaksi atas rekening toko e-commerce yang bersangkutan sehingga rekening tersebut untuk sementara tidak dapat melakukan transaksi,” ujar Hera dalam keterangan resminya.

5. Tidak Terafiliasi dengan Grab

Grab Toko sendiri tidak terafiliasi dengan perusahaan layanan on demand, Grab. Pengelola Grab Toko mengklaim selalu menekankan informasi itu apabila ada pihak yang menanyakan.

“Kami tidak ada hubungan apapun dengan grabid,” tulis pengelola dalam story yang diunggah akun instagram @grabtokoid.

Pengelola mengaku telah mengecek ke Kementerian Hukum dan HAM bagian Administrasi Hukum Umum (AHU) sebelum menggunakan nama itu. Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) juga disebut berbeda.

“Sebelum pembuatan PT, tim pengacara kami sudah mengecek di AHU dan nama Grab Toko sudah bisa digunakan dalam KBLI pun berbeda jauh,” imbuh mereka dalam unggahan tersebut.

6. Pemilik Grab Toko Ditangkap Polisi
Saat ini, pemilik Grab Toko, Yudha Manggala Putra telah ditangkap oleh pihak berwajib. Ia diduga melakukan menyebar berita bohong dan menyebabkan kerugian konsumen.

“Telah dilakukan penangkapan terhadap seorang laki-laki yang diduga melakukan dugaan tindak pidana menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen, dalam transaksi elektronik, tindak pidana transfer dana/pencucian uang,” kata Kabareskim Polri Komisaris Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat dikonfirmasi pada Selasa (12/1) kemarin.

Listyo menyatakan bahwa Yudha ditangkap sekitar pukul 20.00 WIB di Jalan Pattimura, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Penangkapan itu berdasarkan Laporan Polisi : LP/B/0019/I/2021/Bareskrim tanggal 9 Januari 2021.

Listyo menjelaskan bahwa para tersangka dijerat pasal 28 ayat (1) juncto Pasal 45A ayat (1) UU ITE dan atau Pasal 378 KUHP dan atau pasal 82 dan atau Pasal 85 Undang-Undang Nomor 3 tahun 2011 tentang transfer dana. (cnnindonesia.com)