Demo Anti-Muslim Terjadi di Inggris, Masjid-masjid di Jaga Polisi

JAKARTA – WARTA BOGOR – Polisi di Inggris didesak untuk meningkatkan patroli di sekitar masjid dan tempat penampungan pencari suaka imbas menyusul rencana 19 aksi unjuk rasa sayap kanan di berbagai kota.

Unjuk rasa ini terjadi dari Southport ke London, Hartlepool, Manchester, dan Aldershot setelah insiden penikaman yang terjadi di klub liburan anak-anak pada Senin (29/7/2024).

Para pemimpin komunitas mengungkapkan kekhawatiran akan kemungkinan terjadinya kerusuhan lebih lanjut setelah masjid dan tempat penampungan pencari suaka menjadi sasaran kelompok agigator yang mengintimidasi.

Kerusuhan ini dimulai setelah informasi keliru yang menyebar luas secara online mengenai identitas dan motif tersangka dalam pembunuhan yang terjadi Southport, yang diidentifikasi sebagai Axel Rudakubana, remaja 17 tahun asal Cardiff dengan orang tua asal Rwanda.

Hakim Andrew Menary KC memutuskan bahwa nama Rudakubana harus dilaporkan untuk mencegah penyebaran disinformasi. Ia dilaporkan dengan tuduhan pembunuhan terhadap 3 anak kecil dan percobaan pembunuhan terhadap 10 orang lainnya.

Mosque Security, perusahaan yang memberikan sarana perlindungan kepada pemimpin agama, melaporkan telah menerima lebih dari 100 permintaan bantuan dari masjid dalam beberapa hari terakhir. Direktur perusahaan itu menyebut, bahwa rekomendasi keamanan online mereka telah dituduh “ratusan kali” karena narasi anti-Muslim yang keliru setelah pembunuhan di Southport.

Terdapat juga laporan beberapa masjid yang membatalkan acara akhir pekan karena alasan keamanan. Setidaknya ada 19 aksi unjuk rasa sayap kanan yang direncanakan dalam beberapa hari mendatang di kotaa-kota di seluruh inggris.

Imam Atta, direktur Tell Mama mengatakan “kita perlu melihat polisi mengatur dan meningkatkan patroli di sekitar masjid dan akomodasi pencari suaka. Akan baik melihat tim lingkungan mengubah waktu patroli mereka untuk memberikan jaminan tambahan kepada komunitas,”.

Sementara itu, Kepala polisi Cleveland, Mark Webster menggambark kerusuhan di Hartlepool sebagai “kekerasan yang tidak masuk akal”. Saat ditanya tentang alasan melakukan kerusuhan itu, ia mengatakan bahwa itu adalah kesempatan untuk keluar dan merusak barang, serta melakukan kekerasan tanpa prinsip yang jelas. “Ini bukan protes atau demonstrasi yang sah. Ini hanyalah aksi brutal yang tidak bisa dibenarkan,”

 

 

 

Sumber: CNBC Indonesia