WARTABOGOR.id -Kebiasaan membentak anak ternyata bisa berdampak buruk bagi tumbuh kembangnya. Melansir Parents, berikut sejumlah dampak yang terjadi pada anak jika orangtua suka membentak:
1. Anak tidak bisa belajar
Psikolog klinis dan penulis Peaceful Parent, Happy Kids: How to Stop Yelling and Start Connecting, Laura Markham, PhD mengatakan, membentak adalah cara melepaskan rasa marah dan itu bukanlah cara yang efektif untuk mengubah perilaku.
Ketika dibentak, anak akan takut dan berada pada mode “fight or flight”. Pada situasi tersebut, pusat pembelajaran di otak anak akan mati.
Fight or flight adalah respons psikologis yang terjadi ketika otak kita mendeteksi ancaman. Tentu saja, pada posisi tersebut, anak akan sulit untuk belajar karena otak mereka mendeteksi orang yang membentak mereka sebagai ancaman.
Kemudian, otak akan secara efektif mematikan bagian lain pada otak yang tidak didedikasikan untuk perlindungan dan pertahanan diri.
“Komunikasi yang tenang justru dapat membantu anak merasa aman dan membuat mereka lebih mampu menerima pembelajaran yang kita berikan,” kata Markham.
2. Anak merasa tak dihargai
Kebanyakan dari kita, dihargai oleh orang lain menjadi cara bagaimana kita menilai harga diri kita dan menentukan apakah diri kita penting bagi dunia sekitar atau tidak.
“Membentak adalah salah satu cara paling cepat untuk membuat seseorang merasa tidak dihargai,” ujar Shrand.
Markham berpendapat serupa. Padahal, kata dia, anak-anak seharusnya dapat merasa dirinya dihargai dan tidak merasa kita sebagai musuh.
3. Memicu kecemasan, depresi, dan kepercayaan diri rendah
Sejumlah penelitian menemukan bahwa anak-anak yang dibentak orangtuanya lebih rentan mengalami kecemasan dan tingkat depresinya juga meningkat.
Menurut Markham, perasaan kecemasan didapatkan anak dari orangtuanya. Bagaimana ayah atau ibunya bereaksi terhadap kesalahan yang mereka buat dapat merangsang kecemasan anak. Membentak tentu saja bukanlah pengalaman yang menenangkan buat anak.
Tak hanya itu, psikolog klinis sekaligus penulis There When He Needs You: How to Be an Available, Involved, and Emotionally Connected Father to Your Son, Neil Bernstein, PhD mengatakan, kenegatifan adalah “bahan bakar” untuk kecemasan dan depresi. Pada anak, bentakan orangtua bisa menciptakan ledakan kenegatifan yang akan bertahan lama.
4. Merusak ikatan dengan anak
Kebiasaan membentak akan merusak hubungan baik antara orangtua dan anak. Bentakan tidak akan menumbuhkan empati dan membuat anak merasa orangtuanya tidak berada dalam tim yang sama dengannya.
Sering kali, anak-anak meninggalkan interaksi ketika dibentak karena merasa defensif dan tidak terhubung dengan orantuanya. Mereka menjadi tidak terbuka untuk perubahan, tidak reseptif, dan sulit terhubung secara lebih mendalam dengan orangtuanya.
“Selama 40 tahun saya menjadi psikolog, saya sudah melihat ribuan anak dan tidak ada satu pun yang mengatakan pada saya bahwa mereka merasa lebih dekat dengan orangtuanya setelah dimarahi,” kata Bernstein.
5. Membahayakan anak
Salah satu studi menyebutkan bahwa meneriaki atau membentak anak adalah salah satu ukuran untuk cara mendisiplinkan yang keras dan menyimpulkan bahwa anak-anak yang didisiplinkan dengan cara ini cenderung memiliki prestasi sekolah yang buruk dan masalah perilaku.
Studi lain menunjukkan bahwa membentak memberikan efek yang sama pada anak, sama seperti hukuman fisik.
Studi lainnya bahkan menyimpulkan bahwa pelecehan verbal dan sering dibentak dapat mengubah cara otak anak berkembang.
6. Memberikan contoh komunikasi yang buruk
Anak-anak masih belajar dalam memiliki kemampuan mengatur emosi yang baik. Jika orangtua tak menunjukannya, mereka akan semakin sulit memahami itu.
Orangtua yang mudah membentak ketika merasa kesal akan mengajari anak bagaimana mereka merespons situasi frustrasi kelak.
Dengan kata lain, seseorang yang sering membentak anak akan membesarkan anak yang juga akan suka membentak.
Shrand menjelaskan, sebagian, ini terjadi karena ketika kita membentak anak, kita akan mengaktifkan “neuron cermin” anak atau bagian otak yang menirukan perilaku orang lain. Itulah mengapa anak yang sering dibentak cenderung akan merespons dengan cara yang sama ketika menghadapi situasi serupa.
“Kemarahan akan menimbulkan kemarahan lain. Membentak anak akan membuat mereka ingin membalas kita,” ucapnya.
Yang harus dilakukan ketika marah.
Alih-alih langsung bereaksi membentak, ada beberapa respons yang disarankan oleh para pakar, yakni:
Mengambil napas dalam.
Menghitung mundur.
Lari di tempat.
Berusaha sesedikit mungkin bicara hingga pikiran sudah tenang.
Pikirkan sesuatu yang positif yang dapat mengalihkan dari membentak anak. Misalnya, “anak saya butuh bantuan saya saat ini.”
Memaksakan senyum atau tawa sekalipun dapat mengirimkan pesan pada otak bahwa situasi itu bukanlah situasi darurat.
Setelah berhasil menenangkan diri, kita sudah siap untuk meredakan situasi, bukan justru memperparahnya.
Tidak langsung membentak ketika merespons amarah memang memerlukan usaha dan kebanyakan orang perlu waktu untuk membiasakan diri dengan respons ini. (Kompas.com)