CIAMIS-WARTABOGOR.id – Meskipun banyak tantangan di masa pandemi Covid-19, Mentan Syahrul Yasin limpo (SYL) melihat semakin banyak orang yang membutuhkan pertanian. “Pertanian yang dibutuhkan, adalah pertanian yang efektif, efisien dan transparan. Hal itu bisa dilakukan melalui petani milenial yang modern,” tutur SYL.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian, Dedi Nursyamsi, pun mengamini. Ia menegaskan, mahasiswa Polbangtan/PEPI sudah seharusnya menjadi motor penggerak transformasi pertanian tradisional Indonesia menuju modern, sesuai kodratnya sebagai generasi milenial.
Memasuki Tatanan Normal Baru atau dikenal sebagai New Normal, trend bertani secara hidroponik kini kembali bergaung selama pandemi COVID 19. Permintaan perakitan instalasi hidroponik pun meningkat. Peluang inilah yang ditangkap oleh salah satu wirausahawan dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Syahrul Ramdani Wahid.
“Beberapa tetangga ada yang menanyakan tentang prosedur budidaya tanaman menggunakan hidroponik. Hal ini merupakan peluang usaha untuk menjual instalasi hidroponik dengan harga yang disesuaikan dengan permintaan konsumen,” ungkap Syahrul menceritakan awal mula dirinya terjun di usaha perakitan instalasi hidroponik.
Syahrul memang masih terdaftar menjadi mahasiswa Polbangtan Bogor yang kini tengah belajar di rumah (learn from home) di rumahnya Dusun Bojong, Desa Sukamulya, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis Jawa Barat selama pandemi COVID-19 ini. Ditengah waktu luangnya, mahasiswa program studi Teknologi Mekanisasi Pertanian Bogor mengedukasi masyarakat sekitar tentang budidaya pertanian menggunakan hidroponik. Tidak hanya itu, ia juga menjual instalasi hidroponik yang disesuaikan dengan keinginan konsumen.
“Saat ini saya sudah menyelesaikan pesanan instalasi hidroponik sistem NFT dengan 63 lubang tanam seharga Rp 500.000. Harga tersebut sudah termasuk pendampingan atau penjelasan tentang tata cara penanaman sayuran menggunakan hidroponik seperti cara pembibitan, dan penghitungan kebutuhan nutrisi AB mix,” tutur Syahrul.
Lebih lanjut, Syahrul menjelaskan bahwa NFT merupakan kepanjangan dari Nutrient Film Technique , konsep dasar sistem ini adalah mengalirkan nutrisi hidroponik ke akar tanaman secara tipis (film). Tujuan dari pengaliran secara tipis ini adalah supaya akar tanaman bisa memperoleh asupan Air, Oksigen dan Nutrisi yang cukup
Peluang bisnis dibidang teknologi pertanian ini memang sangat prospektif, mengingat pemenuhan kebutuhan pangan merupakan isu yang sedang hangat dibicarakan pada saat pandemik Covid-19. Karenanya, peranan teknologi aplikatif serta dukungan dari generasi muda merupakan solusi bagi perkembangan dan percepatan adopsi teknologi pertanian di Indonesia guna mencapai ketahanan pangan nasional bahkan Internasional.
Pewarta : Arif P. & Intan K.W.
Sumber : Polbangtan Bogor