Kapal Kemanusiaan Membawa Bantuan ke Gaza Dicegat Israel

GAZA – WARTA BOGOR – Kapal bantuan Madleen dari Koalisi Armada Kebebasan atau yang Freedom Flotilla Coalition (FFC) yang membawa Greta Thunberg dan aktivis terkemuka lainnya menuju Gaza dicegat pasukan Israel.

Pasukan Israel menangkap mereka yang ada di dalam kapal tersebut dan dibawa ke Israel, sebagaimana dilansir CNN, Minggu (8/6/2025).

FFC sebelumnya melaporkan bahwa militer Israel telah menaiki Madleen yang berusaha mengirimkan bantuan ke Gaza.

Selain Thunberg, beberapa tokoh yang menaiki kapal tersebut yakni aktor Game of Thrones Liam Cunningham, dan Rima Hassan anggota Parlemen Eropa asal Perancis.

“Para penumpang diharapkan kembali ke negara asal mereka,” kata Kementerian Luar Negeri Israel dalam sebuah unggahan di X.

Aktivis iklim Thunberg termasuk di antara mereka yang berada di Madleen. Dalam unggahan sebelumnya, FFC mengatakan bahwa kapal tersebut telah diserang di perairan internasional.

“(Drone) quadcopter mengelilingi kapal, menyemprotkan zat seperti cat putih. Komunikasi terputus, dan suara-suara mengganggu terdengan di radio,” kata FFC di saluran Telegram-nya.

Israel sendiri berulang kali berjanji untuk menghentikan kapal bantuan tersebut mencapai Gaza.

Pihak Israel menggambarkan kapal Madleen tersebut sebagai kapal pesiar swafoto yang membawa para selebritas.

“Saya telah menginstruksikan IDF (Pasukan Pertahanan Israel) untuk memastikan bahwa armada Madleen tidak mencapai Gaza,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Minggu.

Kapal bantuan tersebut pertama kali melaporkan tanda-tanda aksi militer Israel pada Senin dini hari.

“Beberapa saat yang lalu, dua drone Israel berada di atas FFC Madleen dan menjatuhkan atau menyemprotkan semacam bahan kimia putih ke Madleen. Sekarang Madleen tampaknya dikelilingi oleh pasukan komando angkatan laut Israel,” kata Huwaida Arraf dari Freedom Flotilla kepada CNN.

FFC sendiri adalah sebuah organisasi yang telah berkampanye menentang blokade Israel terhadap Gaza dan mencoba menerobos pengepungan dengan perahu.

“Kami tahu bahwa ini adalah misi yang sangat berisiko dan kami tahu bahwa pengalaman sebelumnya dengan armada seperti ini telah mengakibatkan serangan, kekerasan, dan bahkan kasus kematian,” kata Thunberg kepada CNN pada Sabtu (7/6/2025).

Sumber: Kompas.com