Kurban dan Kesalehan Sosial: Manifestasi Ketakwaan dan Kepedulian terhadap Sesama

Oleh: Dr. Suhandi, S.Pd.I., M.Pd.I.
Pengawas Syariah LAZ Ummul Quro Bogor
Sekretaris Pengurus Daerah Al-Washliyah Kota Bogor

Ibadah kurban merupakan salah satu syariat Islam yang sarat dengan nilai spiritual dan sosial. Syariat ini telah diwariskan sejak zaman Nabi Ibrahim a.s., ketika beliau menunjukkan ketundukan total kepada Allah Swt. melalui kesediaannya mengorbankan putranya, Nabi Ismail a.s. Peristiwa agung tersebut kemudian menjadi simbol ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan yang terus hidup dalam tradisi umat Islam hingga hari ini.

Secara bahasa, kurban berasal dari kata qaruba yang berarti dekat. Dalam makna syar’i, kurban adalah ibadah penyembelihan hewan tertentu pada hari Idul Adha dan hari-hari tasyrik sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah Swt. Karena itu, hakikat kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan menghadirkan ketakwaan dan keikhlasan dalam penghambaan kepada-Nya.

Kurban termasuk ibadah maliyah, yakni ibadah yang berkaitan dengan pengeluaran harta. Namun demikian, kurban berbeda dengan zakat, baik dari sisi hukum maupun tujuannya. Zakat bersifat wajib dengan ketentuan nisab dan golongan penerima tertentu, sedangkan kurban merupakan ibadah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan bagi umat Islam yang memiliki kemampuan. Jika zakat berorientasi pada pembersihan harta dan distribusi ekonomi, maka kurban lebih menonjolkan dimensi penghambaan, keikhlasan, dan semangat pengorbanan kepada Allah Swt.

Di sinilah tampak fungsi vertikal dari ibadah kurban. Seorang muslim yang berkurban sejatinya sedang membuktikan cintanya kepada Allah Swt. Ia rela mengeluarkan sebagian hartanya demi melaksanakan syariat dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kurban menjadi simbol bahwa kecintaan kepada Allah berada di atas kecintaan terhadap harta benda.

Namun, kurban tidak berhenti pada dimensi spiritual semata. Islam mengajarkan bahwa kesalehan harus melahirkan kepedulian sosial. Karena itu, ibadah kurban juga memiliki fungsi horizontal yang sangat kuat. Daging kurban dibagikan kepada saudara, tetangga, kaum dhuafa, dan masyarakat luas. Melalui momentum Idul Adha, tumbuh rasa empati, solidaritas, dan kebersamaan di tengah masyarakat.

Kurban menjadi media pendidikan sosial yang mengajarkan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama. Orang-orang yang mungkin selama ini jarang menikmati hidangan daging, pada hari raya kurban dapat turut merasakan kebahagiaan dan keberkahan. Inilah wajah Islam yang menghadirkan keseimbangan antara hubungan kepada Allah dan hubungan kepada manusia.

Karena itu, kurban sejatinya bukan hanya diperuntukkan bagi orang kaya. Kurban adalah ibadah bagi mereka yang memiliki kelapangan hati. Tidak sedikit masyarakat dengan kondisi ekonomi sederhana yang rela menabung dan menyisihkan rezekinya sedikit demi sedikit demi dapat berkurban. Sebab yang dinilai Allah Swt. bukan kemewahan hewan yang disembelih, melainkan keikhlasan dan ketakwaan orang yang melaksanakannya.

Momentum Idul Adha juga hendaknya menjadi kesempatan terbaik untuk segera melaksanakan ibadah kurban ketika Allah telah memberikan kemampuan dan kelapangan rezeki. Jangan menunda niat baik dengan alasan menunggu tahun depan, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia masih diberikan usia dan kesempatan untuk kembali bertemu dengan Idul Adha berikutnya. Selama hari ini masih diberi kesehatan, kemampuan, dan rezeki, maka itulah kesempatan terbaik untuk mempersembahkan ibadah terbaik kepada Allah Swt.

Semangat tersebut juga menjadi ruh program “Qurban Tanda Cinta” yang diinisiasi oleh LAZ Ummul Quro Bogor. Program ini tidak hanya menghadirkan kemudahan dalam beribadah kurban, tetapi juga merepresentasikan dua dimensi cinta sekaligus: cinta kepada Allah Swt. melalui pelaksanaan syariat kurban, dan cinta kepada sesama melalui berbagi manfaat kepada masyarakat yang membutuhkan.

Melalui program ini, masyarakat diajak untuk menjadikan kurban bukan sekadar ritual tahunan, melainkan wujud nyata ketakwaan dan kepedulian sosial. Sebab sejatinya, harta terbaik adalah harta yang dipersembahkan di jalan Allah dan memberi manfaat bagi sesama.

Pada akhirnya, ibadah kurban mengajarkan bahwa kesalehan sejati bukan hanya tampak dalam ritual ibadah, tetapi juga dalam kepedulian sosial. Ketika ketakwaan kepada Allah berjalan beriringan dengan semangat berbagi kepada sesama, maka kurban akan melahirkan masyarakat yang lebih peduli, harmonis, dan penuh keberkahan.

Wallahu a’lam