WARTA BOGOR – Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz masih terbuka bagi kapal-kapal dari negara yang bukan musuh Iran.
Menurutnya, pembatasan hanya berlaku bagi kapal tanker dan kapal yang berasal dari Amerika Serikat, Israel, serta negara sekutu mereka.
“Selat Hormuz hanya ditutup untuk kapal tanker dan kapal milik musuh Iran, yaitu pihak yang menyerang Iran dan sekutunya. Negara lain tetap dipersilakan untuk melintas,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan MS Now.
Meski demikian, ia mengakui sejumlah negara memilih tidak melewati jalur pelayaran tersebut karena alasan keamanan. Menurut Araghchi, keputusan tersebut bukan karena larangan dari Iran.
Ia juga menyebut hingga saat ini masih banyak kapal tanker dan kapal lain yang tetap melintasi Selat Hormuz.
Beberapa kapal yang diketahui telah melintas dengan aman berasal dari India dan China.
Diketahui Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran strategis bagi perdagangan energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global melewati selat sempit di kawasan Timur Tengah tersebut yang berada di bawah pengaruh Iran.
Ketegangan di kawasan itu telah memicu kekhawatiran pasar energi global. Sebagai respons, Amerika Serikat dan sekutunya dilaporkan telah mengeluarkan sekitar 400 juta barel cadangan minyak strategis untuk menstabilkan pasokan dan menekan lonjakan harga minyak.
Saat ini, harga minyak mentah acuan West Texas Intermediate (WTI) tercatat mencapai sekitar 98 dolar AS per barel, sementara Brent Crude berada di kisaran 103 dolar AS per barel.
Sebelumnya, Iran juga mengklaim bertanggung jawab atas sejumlah serangan terhadap kapal-kapal di sekitar jalur pelayaran tersebut, termasuk terhadap sebuah kapal asal Thailand.
Korps Garda Revolusi Islam juga menyatakan bahwa setiap kapal yang ingin melintas di Selat Hormuz harus mendapatkan izin dari Iran.
Sumber: CNBC Indonesia