Peduli dengan Pendidikan Anak Jalanan, Aksi Petani Milenial Polbangtan Bogor ini Patut Diacungi Jempol

BOGOR-WARTABOGOR.id – Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, tidak menjadi kendala bagi Wahyu Binarti mahasiswa tingkat II Program Studi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan (PPB) untuk berbagi kebahagiaan dengan anak-anak jalanan di Kota Bogor. Wahyu bergabung dengan relawan Komunitas Terminal Hujan (TH), organisasi nirlaba yang menaruh perhatian kepada layanan dan dukungan pendidikan anak marjinal dan membantu memberdayakan ekonomi orang tua yang tinggal di wilayah perkampungan di belakang Terminal Baranangsiang Kota Bogor.

Para relawan yang setiap Minggu membantu anak-anak jalanan belajar di komunitas Terminal Hujan ini berusaha melakukan pendekatan personal dan menggunakan pola permainan yang atraktif untuk menarik minat anak-anak belajar.

 “Emosi anak-anak itu lebih tidak terkontrol, namun apabila kita bisa dekat dengan mereka, mereka akan dekat dengan kita,” ungkap Wahyu.

Meski harus bersiasat membagi waktu untuk kesibukkan kuliah  dan kegiatan sosial. Ada juga yang sudah bekerja. Wahyu dan relawan lainnya mendapat kepuasan pribadi dengan membantu anak-anak yang sangat luar biasa tersebut karena tak kenal lelah untuk terus ingin belajar walau latar belakang mereka yang sangat menginspiratif kita untuk selalu bersyukur.

“Membagi waktu itu komitmen, namun minimal ada satu dari tujuh hari untuk kita curahkan berbuat sosial dan kemanusiaan. Ketika saya melihat anak-anak belajar dengan keterbatasan dan problematikanya, saya termotivasi, untuk belajar lagi dan mengajarkan. Ketika melihat anak-anak ini diselamatkan dari jurang kehancuran, itu nilainya sama dengan menyelamatkan dunia dan isinya,” ujar alumni SMAN 10 Bekasi ini.

Wahyu menuturkan, hal pertama yang dilakukan relawan komunitas Terminal Hujan ini mengajak mereka bercengkrama dan bermain terlebih dahulu. Hal itu dilakukan untuk membangun hubungan dan mendekatkan diri dengan anak-anak. Hal-hal yang diajarkan dalam pembelajaran bukan sekadar ilmu pengetahuan seperti matematika, pengetahuan kebangsaan dan bahasa inggris, tetapi juga membangun karakter. Pembangunan karakter dipupuk melalui cara-cara informal.

“Misalnya waktu belajar, ngobrol sama adik-adiknya, bercerita, kalo ada adiknya yang berkata kasar kita bilang, ‘Bukan gitu ngomongnya,” ucap Wahyu.

Para relawan yang mengajari anak-anak pun harus mampu menjadi role model bagi mereka. Sebab, anak-anak memiliki kecenderungan untuk meniru hal-hal yang dilakukan orang lain. Mengajari anak-anak marginal yang sudah terbiasa mencari uang bukan perkara mudah. “Marilah kita ikut andil dalam komunitas Terminal Hujan untuk menjadi Relawan untuk anak-anak generasi muda kalau bukan dari kita siapa lagi,” ajak Wahyu kepada para milenial Kota Bogor.

Pewarta : Arif & Wahyu

Editor : Ar