Produktif Saat LFH, Seli Bantu Petani Pasarkan Produk Hortikultura

GARUT-WARTABOGOR.id –Menurut Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL), Pandemi Covid-19 yang sedang melanda saat ini tidak menghalangi para siswa untuk tetap mengikuti pembelajaran.

“Proses pembelajaran di Polbangtan tetap harus berjalan dengan tetap memperhatikan ketetapan pemerintah dalam mencegah penyebaran Covid-19,” ungkapnya.

Senada dengan Mentan, Kepala BPPSDMP, Dedi Nursyami pun menegaskan bahwa pendidikan tetap bisa berjalan meskipun kita sedang mengalami pandemi Covid-19 dengan sistem pembelajaran jarak jauh

Sekolahnya kini dilakukan dengan metode online (LFH), namun ada manfaat lain yang dirasakan mahasiswi Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Seli Wulandari saat pulang kampung. 

Hari masih pagi, namun petani hortikultura di Kampung Taraju, Desa Simpang, Kecamatan Cikajang, Kabupaten Garut sudah berangkat ke kebun sayuran mereka untuk memanen beberapa jenis sayuran.

Begitupula mahasiswi tingkat 2 semester 4 Program Studi Agribisnis Hortikultura Jurusan Pertanian di Polbangtan Bogor, Seli Wulandari yang tengah balik kampung. Dirinya memilih untuk terjun langsung ke kebun dan melakukan pendampingan langsung kepada petani untuk meningkatkan nilai harga produk panen sekaligus melatihnya bersosialisasi dengan petani. “Saya dibimbing oleh penyuluh Senior yaitu Hendra,  penyuluh ditugaskan oleh BPP Cikajang untuk mendampingi petani di kampung saya,” tuturnya. 

Selama ini, petani rata-rata memproduksi hortikultura komoditas sayur seperti kubis, kentang, cabai rawit, buncis dan lain-lain. “Petani disini biasanya mengangkut hasil pertanian dengan tenaga manusia dan teknologi (Motor Gunung) sehingga ongkos angkut yang digunakan ketika pengangkutan dengan menggunakan manusia 2x lipat lebih besar dari pada motor yang dimana jalan yang digunakan sangat licin dan bisa merusak hasil panen,” ungkapnya setelah ngobrol dengan salah satu petani setempat, Ade.

Begitupula jarak tempuh dari pemukiman warga dengan kebun sayuran yang cukup panjang. “Jarak dari pemukiman ke lahan kubis  sangat jauh, saya berangkat dari pukul 05:00 sampai 06:30 dengan jalanan yang naik turun dan licin.  Seperti itulah rutinitas yang dilakukan oleh para petani di kampung saya” tambahnya.

Mendengar permasalahan yang seperti itu, Seli bersama penyuluh setempat akan melakukan diskusi dan menemukan strategi agar dengan pendampingan intensif, petani setempat bisa lebih meningkat kesejahterannya.

Pewarta : Arif Prastiyanto

Sumber : Seli W. (Polbangtan Bogor)