Semangat Petani Milenial dari Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar

SUKABUMI-WARTABOGOR.id –Menghadapi kondisi pandemi Covid-19, Mentan Syahrul Yasin limpo (SYL) melihat semakin banyak orang yang membutuhkan pertanian. “Pertanian yang dibutuhkan, adalah pertanian yang efektif, efisien dan transparan. Hal itu bisa dilakukan melalui petani milenial yang modern,” tutur SYL.

Senada dengan pernyataan Mentan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Prof. Dedi Nursyamsi menuturkan bahwa pertanian harus didukung kalangan milenial sebagai generasi muda. “Mendukung upaya pemerintah melakukan regenerasi petani sekaligus melahirkan pengusaha muda pertanian yang berdampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat pertanian Indonesia,” tegasnya.

Semangat serupa, muncul dari sosok petani milenial Supriadi Patrio. Pemuda yang biasa dipanggil  “Kang Apri” ini lahir pada 20 Februari 1990 di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi. Kang Apri dibesarkan pada lingkungan yang menjunjung tinggi dan mempertahankan adat istiadat selama 640 tahun. Tertarik pada bidang pertanian, Kang Apri memperoleh beasiswa pendidikan pertanian di Okinawa, Jepang pada tahun 2014. Begitu sampai di tanah air, Kang Apri membentuk Kelompok Tani Muda Ciptagelar (Pamular) yang beranggotakan 30 orang.

“Motivasi utama untuk melakukan budidaya pertanian adalah membangun potensi di bidang agroforestry agar tercipta keseimbangan dan kemandirian lingkungan masyarakat desa. Suatu saat nanti masyarakat desa juga bisa hidup bermartabat tidak harus selalu mencari penghasilan ke perkotaan,” ucapnya.

 Menurutnya, kebutuhan produk pertanian di lingkungan sekitar merupakan potensi bagi pengembangan budidaya pertanian. Oleh karena itu, peran petani milenial sangat diperlukan untuk mengembangkan pertanian sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan di lingkungan tempat tinggalnya.

Pandemi Covid-19 berdampak pada seluruh sektor kehidupan termasuk pertanian. “Dampak spesifik pada pertanian di Kampung Adat Kasepuhan Ciptagelar yaitu omset penjualan pisang menurun karena tidak ada jalur distribusi ke pasar induk Jakarta,” keluhnya.

Kang Apri pun berpikir keras mencari jalan keluarnya. “Strategi yang diterapkan saat ini adalah menanam pohon pisang sehingga stok produk meningkat pada saat Covid-19 menghilang. Sedangkan hasil panen sayuran berupa kol, sawi, pakcoy, caisim, dan kangkung digunakan untuk mencukupi konsumsi di Bumi Ageung Kasepuhan,” ucapnya optimis.

 “Pertanian itu keren dan bisnis yang sangat menjanjikan. Kita bisa menjadi wirausaha di lingkungan sendiri dan menjadi juragan tani yang bahagia jadi jangan pernah malu untuk menjadi petani, karena nasib pertanian kedepan ada ditangan milenial, sudah saatnya pertanian semakin berjaya dengan adanya sumbangsih dari para generasi muda Indonesia,” pungkasnya.

Pewarta : Intan Kusuma W.

Editor : Ar