MUARO JAMBI-WARTA BOGOR — Gerakan Tanam Serentak (GERTAM) Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM‑AAS) digelar di Muaro Jambi, Jambi, pada 8 September 2026. Sebuah drone seeder diterbangkan di atas lahan untuk menebarkan benih padi secara langsung. Teknologi ini menjadi bagian dari penerapan PM‑AAS yang dibawa Polbangtan Bogor dalam kegiatan GERTAM di Muaro Jambi.
Ada satu hal yang sedang berubah dalam cara padi ditanam: semakin banyak pekerjaan di lahan yang mulai bisa dilakukan dengan bantuan teknologi. Bukan lagi sekadar bagaimana menanam padi, melainkan bagaimana menanam lebih cepat, lebih presisi, lebih efisien, dan menghasilkan lebih banyak. Pertanyaan tersebut menjadi salah satu dasar penerapan PM‑AAS (Pertanian Modern–Advanced Agricultural System), sebuah pendekatan budidaya padi yang memadukan teknik budidaya dengan mekanisasi dan teknologi. Sistem ini dirancang untuk mengubah proses produksi padi yang selama ini banyak bergantung pada cara konvensional menjadi lebih terukur dan efisien.
PM‑AAS tidak sesederhana mengganti pekerjaan manusia dengan mesin. Traktor dan rotary membantu pengolahan tanah, drone dapat digunakan untuk pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman, sedangkan combine harvester mengambil alih sebagian besar pekerjaan saat panen. Jadi, PM‑AAS bukan tentang satu teknologi. Ia adalah cara baru untuk mengelola seluruh proses produksi padi. Targetnya pun bukan sekadar mempercepat pekerjaan, melainkan meningkatkan produktivitas dari kisaran 5–6 ton per hektar menjadi sekitar 10–13 ton per hektar.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menekankan pentingnya modernisasi pertanian dan penggunaan teknologi untuk meningkatkan produktivitas serta efisiensi.
“Produksinya bisa naik dua kali lipat. PM‑AAS itu kombinasi antara metode Amerika, metode Indonesia, dan metode Tiongkok. Itu kami teliti langsung. Produksinya bisa mencapai 12 ton atau setidaknya 10 ton per hektar,” ujarnya.
Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menjelaskan sisi pengembangan sumber daya manusia dan pentingnya menyiapkan SDM pertanian yang mampu mengoperasikan teknologi tersebut.
“Yang kita bangun bukan hanya percepatan tanam, tetapi juga budaya inovasi. Penyuluh menjadi ujung tombak transformasi pertanian dengan menghadirkan solusi yang adaptif sesuai kondisi wilayah,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Polbangtan Bogor, Yoyon Haryanto, menegaskan bahwa keterlibatan lembaga pendidikan vokasi membawa dimensi yang berbeda. Sebagai institusi pendidikan vokasi di bidang pertanian, kampus tidak hanya menjadi tempat mempelajari teori, tetapi juga bagian dari ekosistem yang menyiapkan SDM untuk menghadapi perubahan teknologi di sektor pertanian.
“Inilah yang akan mempercepat terwujudnya swasembada pangan sekaligus mendorong pertanian Indonesia menjadi lebih modern, efisien, dan berkelanjutan,” ujar Yoyon.
Drone mungkin hanya membutuhkan beberapa menit untuk menebarkan benih dari udara. Namun perubahan yang dibawanya jauh lebih luas: menyangkut efisiensi, produktivitas, keterampilan baru, dan bagaimana generasi mendatang akan memandang profesi pertanian.
Hari ini, sebuah drone menebarkan benih di Muaro Jambi. Esok hari, teknologi kemungkinan besar akan membawa lebih banyak inovasi ke lahan pertanian. Pertanyaannya bukan lagi apakah pertanian akan menjadi modern, melainkan: seberapa siap kita menyambutnya? (agm)