Lingkungan

58 Persen Wilayah Indonesia Terlambat Masuki Musim Kemarau 2021

JAKARTA-WARTABOGOR.id- Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksikan bahwa 58 persen wilayah Zona Musim (ZOM) Indonesia akan terlambat memasuki Musim Kemarau 2021.

Hal ini disampaikan oleh Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers bertajuk Prakiraan Musim Kemarau 2021 dan Langkah Antisipasi Dalam Menghadapi Potensi Kekeringan serta Kebakaran Hutan Lahan, Kamis (25/3/2021).

“BMKG memprediksi peralihan angin monsun akan terjadi pada akhir Maret 2021 dan setelah itu Monsun Australia akan mulai aktif. Karena itu, musim kemarau 2021 diprediksi akan mulai terjadi pada April 2021,” kata Dwikorita.

Advertisement

Sehingga, di beberapa wilayah akan mengalami awal musim kemarau pada bulan yang berbeda mulai dari bulan April, Mei dan Juni. Berikut daftar wilayah dan prediksi awal musim kemarau 2021.

Awal Musim Kemarau April 2021

Beberapa zona musim yang masuk kategori ini yakni:

Advertisement

Sekitar Nusa Tenggara
Bali
Sebagian Jawa
Awal Musim Kemarau Mei 2021

Berikutnya, sekitar 30,4 persen wilayah ZOM justru akan memasuki Musim Kemarau pada Mei 2021. Di antaranya seperti berikut:

Sumatera
Jawa
Sebagaian Kalimantan
Sebagian Sulawesi
Sebagian kecil
Maluku
Papua

Advertisement

Awal Musim Kemarau Juni 2021

Sementara itu, sebanyak 27.5 persen wilayah akan memasuki Musim Kemarau pada Juni 2021.

Wilayah yang memasuki kemarau Juni 2021 antara lain:

Advertisement

Sebagian Sumatera
Jawa
Sebagian Kalimantan
Sebagian Sulawesi
Sebagian kecil Maluku
Papua
Rerata klimatologis Musim Kemarau 2021.

Apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2021 diprakirakan normal atau sama dengan rerata klimatologisnya pada 182 ZOM (53,2 persen).

“Musim kemarau pada tahun 2021 akan datang lebih lambat dengan akumulasi curah hujan yang mirip dengan kondisi musim kemarau biasanya. Artinya, musim kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstreem, seperti musim kemarau tahun 2015 dan 2019,” ujar Herizal.

Advertisement

Akan tetapi, sejumlah 119 ZOM atau sebanyak 34,8 persen akan mengalami kemarau atas normal atau musim kemarau lebih basah yaitu curah hujan masih lebih tinggi dari rerata klimatologisnya.

Sedangkan, di 41 ZOM atau 12,0 persen akan mengalami bawah normal atau musim kemarau lebih kering. Maksudnya, curah hujan lebih rendah dari reratanya.(kompas.com)

Advertisement
Share

Recent Posts

Polbangtan Kementan Buka Sertifikasi Kompetensi untuk Tiga Program Studi, Siapkan 108 SDM Pertanian Kompeten

BOGOR-WARTA BOGOR — Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor melaksanakan pembukaan sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa dari…

2 hours ago

Isu Teror Pocong Resahkan Warga Parung dan Ciseeng

BOGOR - WARTA BOGOR - Warga di wilayah Parung dan Ciseeng, Kabupaten Bogor, belakangan dihebohkan…

1 day ago
Advertisement

Zakat bukan sekadar dibagikan, tetapi diberdayakan

Oleh: Dr. Suhandi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengawas Syariah LAZ Ummul Quro Bogor & Sekretaris Pengurus Daerah…

1 day ago

Di London, Identitas Islam Kembali Dihina, Dimana umat Islam?

Oleh: Dr. Hepi Andi Bastoni, M.A., M.Pd.I (Ketua IKADI Kota Bogor) Pada pertengahan Mei 2026,…

1 day ago

Sembilan WNI Relawan Global Sumud Flotilla Tiba di Turki Setelah Ditahan Israel, Ungkap Alami Kekerasan Fisik

JAKARTA - WARTA BOGOR - Sebanyak 9 warga negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumud Flotilla…

2 days ago

Kampung di Kemang Bogor Dilanda “Hujan Abu”, Ternyata ini Penyebabnya

BOGOR - WARTA BOGOR - Fenomena menyerupai hujan abu terjadi di Kampung Jampang Batas, Desa…

2 days ago