Apa Itu Doom Spending? Fenomena yang tengah Tren di Kalangan Milenial dan Gen-Z

WARTA BOGOR – Fenomena “doom spending” tengah menjadi tren di kalangan milenial dan gen-Z. Fenomena ini muncul sebagai reaksi stress atas situasi perekonomian.

Doom spending adalah fenomena ketika seseorang berbelanja tanpa berpikir, untuk menenangkan diri karena merasa pesimis dengan ekonomi dan masa depannya.

Menurut Bruce Y Lee, Profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan University of New York dalam Psychology Today, doom spending terjadi saat seseorang merasa tertekan dengan situasi seperti kekacauan politik di Amerika Serikat (AS), kekacauan iklim dimana-mana, dan hal -hal lainnya. Sehingga, orang tersebut membeli lebih banyak barang untuk mengatasi stres itu. Namun, fenomena doom spending tidak ekslusif terjadi di AS.

Menurut Survei Keamanan Finansial International Your Money CNBC, yang dilakukan oleh Survey Monkey yang menanyai 4.342 orang dewasa di seluruh dunia, hanya 36,5% orang dewasa di dunia yang merasa mereka lebih baik secara finansial daripada orang tua mereka. Sementara 42,8% merasa bahwa kondisi finansial mereka sebenarnya lebih buruk daripada orang tua mereka.

“Generasi yang tumbuh sekarang adalah generasi pertama yang akan lebih miskin daripada orang tua mereka,” ujar Ylva Baeckström, dosen senior keuangan di King’s Business School.

“Ada perasaan anda mungkin tidak akan pernah bisa mencapai apa yang dicapai orang tua anda,” jelasnya.

Akibatnya, doom spending menciptakan ilusi kendali di dunia yang terasa seperti tidak terkendali.

“Tetapi yang sebenarnya terjadi adalah, hal itu membuat anda kehilangan kendali di masa depan, karena jika anda menyimpan uang itu dan menginvestasikannya serta melakukan semua hal itu, anda mungkin benar-benar dapat membeli rumah,”ucapnya.

Solusi Berhenti ‘Doom Spending’

Baeckström mengingatkan pentingnya memahami hubungan kita dengan uang jika ingin mengatasi pengeluaran yang tidak sehat.

Dirinya mengatakan hubungan dengan uang seperti hubungan dengan orang lain, yakni hubungan itu dimulai sejak masa anak-anak dan memperlihatkan orang-orang membentuk berbagai jenis keterikatan.

“Jika Anda merasa memiliki keterikatan yang aman dengan uang, Anda dapat membuat penilaian yang baik terhadap sesuatu. Anda mengumpulkan pengetahuan dan Anda dapat mengevaluasinya. Namun jika Anda keterikatan hubungan yang tak aman dengan uang, atau jika Anda tergolong menghindar, maka Anda lebih mungkin tergoda untuk melakukan perilaku belanja yang tidak sehat ini,” terangnya.

Sikap-sikap seseorang terhadap uang berasal dari cara dia dibesarkan. Apakah mereka kaya atau miskin, misalnya.

“Lalu, bagaimana keluarga mereka mengelola uang dan siapa yang mengendalikannya,” kata Baeckström.

Membuat transaksi lebih nyata dan sulit dapat membuat orang berpikir dua kali tentang pengeluaran yang tidak masuk akal.

Samantha Rosenberg, salah satu pendiri dan COO Belong, platform wealth-building menerangkan kepada CNBC Make It, belanja daring memperburuk masalah pengeluaran yang tidak masuk akal. Justru melihat barang secara langsung dapat mencegah pembelian impulsif.

“Titik-titik keputusan tambahan seperti memilih toko, bepergian ke sana, mengevaluasi barang secara langsung, dan kemudian harus mengantre untuk membelinya akan membantu Anda memperlambat dan berpikir lebih kritis tentang pembelian Anda,” ujarnya.

Selain itu, menyiapkan notifikasi perbankan seluler menciptakan sedikit rasa sakit tambahan saat melihat transaksi.

Rosenberg juga merekomendasikan untuk kembali menggunakan uang tunai. Metode pembayaran secara digital seperti Apple Pay misalnya, meningkatkan risiko pengeluaran yang tidak masuk akal karena sangat cepat dan mudah.

“Mereka mengabaikan emosi yang terkait dengan proses keputusan membeli sesuatu. Mereka juga menghilangkan rasa sakit saat menyerahkan uang,” ucap Rosenberg.

 

 

 

Sumber: detikedu