JAKARTA – WARTA BOGOR – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini dinilai belum mencerminkan kondisi ekonomi Indonesia secara menyeluruh.
Pemerintah bersama Bank Indonesia menilai tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor musiman, sehingga mata uang nasional diperkirakan kembali menguat mulai Juli 2026.
Optimisme tersebut muncul karena fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih berada dalam kondisi stabil. Pemerintah menegaskan fokus utama saat ini adalah menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berjalan baik sekaligus memastikan pasar keuangan tetap terkendali.
Menkeu RI, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pergerakan rupiah saat ini tidak perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan. Menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini sangat berbeda dibanding krisis keuangan Asia 1997–1998 yang sering dijadikan pembanding.
“Tekanan terhadap rupiah akan diperbaiki. Yang terpenting saat ini fundamental ekonomi nasional tetap solid,” ujar Purbaya di Jakarta, Senin (18/5/2026).
“Situasi ini lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek, sehingga pemerintah fokus memastikan pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Kami juga mulai masuk ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas,” tambahnya.
Ia menambahkan, sebagian pelaku pasar sempat mengaitkan pelemahan rupiah dengan potensi krisis seperti akhir 1990-an. Namun menurutnya, kondisi ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih siap dan memiliki fondasi yang kuat.
Senada dengan itu, Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menjelaskan penguatan dolar AS terhadap rupiah saat ini sebagian besar dipicu lonjakan kebutuhan valuta asing yang bersifat musiman.
“Permintaan dolar meningkat karena beberapa kebutuhan rutin, seperti keberangkatan jemaah haji, pembayaran dividen perusahaan, serta kewajiban pembayaran utang luar negeri,” kata Perry di Gedung DPR RI.
Menurut Bank Indonesia, tekanan tersebut cenderung bersifat sementara dan diperkirakan mulai mereda pada paruh kedua tahun ini. Berdasarkan tren beberapa tahun terakhir, rupiah umumnya mulai menunjukkan penguatan pada periode Juli hingga September.
“Berdasarkan pola yang terjadi sebelumnya, pada Juli sampai September rupiah biasanya kembali menguat. Kami memperkirakan nilainya akan bergerak pada kisaran Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS, sesuai asumsi makro dalam APBN,” jelas Perry.
Prediksi tersebut menjadi dasar Bank Indonesia untuk terus menjaga stabilitas pasar keuangan melalui kebijakan yang terukur. Bank sentral memastikan langkah intervensi akan dilakukan bila diperlukan, namun tetap mempertimbangkan kecukupan likuiditas di dalam negeri.
Perry juga menegaskan bahwa Bank Indonesia belajar dari pengalaman krisis 1997–1998, ketika fokus besar pada penguatan rupiah justru menyebabkan pengetatan likuiditas yang memperburuk kondisi ekonomi nasional.
“Kami belajar dari pengalaman itu. Karena itu, pembelian surat berharga negara di pasar sekunder dilakukan agar likuiditas tetap terjaga, sekaligus menjadi langkah menarik arus modal masuk,” ujarnya.
Dengan fundamental ekonomi yang dinilai tetap solid dan tekanan musiman yang diperkirakan mereda dalam beberapa bulan mendatang, pemerintah dan Bank Indonesia optimistis rupiah memiliki peluang besar untuk kembali menguat pada semester kedua 2026.
Sumber: Radar Bogor
JAKARTA - WARTA BOGOR - Global Sumud Nusantara mengonfirmasi dua wartawan Indonesia dari Republika, yakni…
BOGOR - WARTA BOGOR- Pemerintah pusat mulai mematangkan rencana pembangunan akademi olahraga dan sport center…
WARTA BOGOR - Perkembangan chatbot berbasis artificial intelligence (AI) membuat banyak aktivitas menjadi lebih mudah…
LAMPUNG - WARTA BOGOR - Seorang pria berinisial IM di Lampung diamankan aparat kepolisian setelah…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Kementerian Agama Republik Indonesia resmi menetapkan 1 Dzulhijjah 1447 Hijriah…
WARTA BOGOR - Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dikenal sebagai waktu yang sangat istimewa bagi…