Dr. Drs. H. Syamsuddin Harun, M.Pd.
Penasihat Forum Komunikasi Ormas Islam (FKOI) Kota Bogor
Ketua PD Al-Washliyah Kota Bogor
BOGOR-Ketika kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang porak-poranda akibat dijatuhi bom atom oleh Amerika Serikat pada Agustus 1945, Kaisar Hirohito dan para petinggi negeri tersebut tidak sibuk meratapi runtuhnya fasilitas fisik atau hilangnya cadangan devisa negara. Sejarah mencatat pertanyaan legendaris yang keluar dari mulut sang Kaisar: “Berapa jumlah guru yang masih tersisa?”
Mereka sadar sepenuhnya bahwa bangunan beton bisa dibangun kembali dalam hitungan tahun, tetapi membangun mentalitas, integritas, dan peradaban manusia membutuhkan fondasi yang jauh lebih lama dan mendasar—dan itu semua bermula dari ruang-ruang kelas tempat para guru mengabdi.
Kesadaran, akal sehat, dan nurani yang lurus senantiasa memahami bahwa poros utama kebangkitan sebuah bangsa terletak pada kualitas pendidiknya. Bukan pada jumlah armada militer, bukan pula pada tumpukan stok senjata, amunisi, atau kekayaan sumber daya alam yang melimpah.
Kepemimpinan bangsa yang cerdas dan visioner pastinya menempatkan perhatian tertinggi pada kesejahteraan, kompetensi, dan martabat guru. Sebaliknya, pemimpin yang rabun sejarah dan dangkal visinya akan terus mengabaikan peran krusial para guru, membiarkan mereka berjuang sendiri di tengah himpitan ekonomi.
Misi Kenabian dan Fondasi Peradaban
Secara teologis, Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW ke muka bumi dengan misi utama sebagai seorang pendidik agung (mu’allim dan murabbi) bagi seluruh umat manusia.
Hal ini ditegaskan langsung dalam firman-Nya di dalam Al-Qur’an:
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(QS. Al-Jumu’ah: 2)
Ayat mulia ini meletakkan cetak biru (blueprint) pendidikan profetik yang jauh melampaui sekadar pemindahan pengetahuan (knowledge transfer). Kebangkitan umat manusia yang dididik langsung oleh Rasulullah SAW bukan sekadar melahirkan kemajuan sains dan teknologi material—seperti yang kemudian dibuktikan secara nyata oleh Jepang pasca-Perang Dunia II—melainkan melahirkan sebuah kebangkitan yang komprehensif, integral, dan paripurna.
Tiga Pilar Kebangkitan Komprehensif
Kebangkitan peradaban yang dilahirkan oleh sistem pendidikan Islam mencakup tiga dimensi utama yang saling berkaitan:
1. Kebangkitan Komitmen (Tilawah Al-Qur’an)
Kebangkitan ini berpusat pada penegakan rujukan ilahi dan tata kelola kehidupan yang bersumber dari kebenaran mutlak. Al-Qur’an bukan sekadar teks bacaan ritual, melainkan peta jalan peradaban.
Landasan berpikir manusia diarahkan pada orientasi hidup yang hakiki: dari mana manusia berasal, untuk apa mereka hidup di bumi, dan ke mana mereka akan kembali. Ini adalah kebangkitan filosofis dan spiritual yang meresap hingga ke lubuk hati paling dalam, melampaui batas-batas kebutuhan fisik dan rasionalitas semata. Melalui proses ini, manusia disadarkan kembali akan posisi hamba di hadapan Sang Pencipta.
2. Kebangkitan Akhlak Mulia (Tazkiyah an-Nafs)
Dimensi kedua adalah pembersihan jiwa (tazkiyah an-nafs) dari berbagai kotoran spiritual, kebodohan moral, dan kesesatan berpikir. Pada masa Jahiliah, umat manusia sempat terjerumus ke titik nadir peradaban: mereka menyembah berhala dari batu, kayu, bahkan kotoran hewan dan pepohonan, yang secara esensial menjatuhkan martabat kemuliaan manusia lebih rendah daripada binatang. Rasulullah SAW datang membenahi dimensi internal ini, menjadikan mata hati dan ketajaman nurani sebagai motor penggerak etika, adab, dan akhlak mulia. Tanpa pensucian jiwa, ilmu pengetahuan yang tinggi di tangan manusia justru berpotensi menjadi alat yang merusak bagi peradaban itu sendiri.
3. Kebangkitan Ilmu yang Bermanfaat (Ta’lim)
Dimensi ketiga adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mendatangkan kemaslahatan hidup (ta’lim). Pada pilar inilah akal manusia dibekali dengan keahlian profesional, sains, dan keterampilan teknis untuk mengelola alam semesta. Kemajuan sains modern yang mampu membangkitkan kembali kota Hiroshima dan Nagasaki dari abu kehancuran adalah bukti nyata kekuatan ilmu.
Namun, dalam pandangan Islam, seluruh kemajuan sains dan teknologi tersebut harus selalu dibingkai oleh orientasi moral yang lurus serta dilandasi oleh komitmen keimanan dan akhlak mulia.
Membenahi Guru: Syarat Mutlak Kemerdekaan Sejati
Ketiga pilar kebangkitan di atas—komitmen spiritual, akhlak mulia, dan penguasaan ilmu—tidak akan pernah terwujud di tengah masyarakat tanpa melalui tangan-tangan ikhlas para pendidik.
Oleh karena itu, membenahi sistem pendidikan mutlak harus dimulai dari membenahi guru itu sendiri: memperbaiki kualitas kedalaman komitmen agamanya, meluruskan akhlak dan profesionalismenya, membekali kapasitas keilmuannya, serta menjamin kesejahteraan hidupnya secara layak.
Jika bangsa ini benar-benar bercita-cita untuk meraih kemerdekaan yang hakiki—bukan sekadar merdeka secara politis, melainkan merdeka secara mental, kultural, dan peradaban—maka negara wajib memuliakan guru secara nyata.
Hentikan eksploitasi moral terhadap profesi pendidik yang selama ini terus dibuai dengan slogan romantis namun kosong makna sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”.
Pahlawan memang berjiwa ikhlas, tetapi negara dan bangsa yang bermartabat tidak boleh membiarkan pahlawannya hidup dalam kecemasan finansial dan keterlantaran sosial.
Penuhi kesejahteraan hidup para guru dengan layak, berikan perlindungan hukum yang kuat, dan tingkatkan kompetensi mereka secara berkelanjutan. Hanya dengan cara inilah para guru dapat fokus, tenang, dan optimal dalam membimbing generasi penerus bangsa menuju gerbang kemerdekaan yang sebenarnya.
CIANJUR - WARTA BOGOR - Sebanyak 37 pria di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diamankan polisi…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di daerah mendapat kepastian…
WARTA BOGOR - Viral di media sosial sebuah gedung Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di…
WARTA BOGOR - Ajang drag race di Kelurahan Upai, Kecamatan Kotamobagu Utara, Kota Kotamobagu, Sulawesi…
BOGOR-WARTA BOGOR – Lembaga Amil Zakat (LAZ) Ummul Quro Bogor telah menyalurkan bantuan berupa santunan…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Menjelang perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia,…