Penghasilan Bertambah tapi Tabungan Tak Makin Banyak

JAKARTA-WARTABOGOR.id- Sebagian besar tujuan hidup seperti membeli rumah, menikah, atau liburan ke destinasi impian, dapat dilakukan jika kita mempunyai fondasi finansial yang kuat.

Sayangnya, kebanyakan orang tak kuat menahan godaan belanja. Semakin besar penghasilan, makin besar pula pengeluarannya.

Karena merasa penghasilan lebih besar, kita pun ingin mencoba semua hal yang selama ini kita inginkan. Beli gadget terbaru, makan di luar setiap minggu, atau ingin pindah ke apartemen.

Pada akhirnya kita mengeluarkan banyak uang. Gaya hidup baru ini terasa menyenangkan dan penting sehingga tanpa sadar pos pengeluaran untuk biaya gaya hidup menjadi bengkak.

Kondisi ini bisa disebut inflasi gaya hidup, yang jika tidak segera diubah bisa menggagalkan perencanaan keuangan untuk masa depan.

“Tanda dari gaya hidup yang buruk adalah refleksi mental, ‘bagaimana saya bisa berhasil dengan lebih sedikit?'”

Begitu kata Katie Waters, perencana keuangan bersertifikat di Stable Waters Financial.

“Kami menemukan bahwa klien sering menyangkal tentang gaya hidup mereka yang berlebihan dan mengubah definisi moderasi mereka saat pendapatan meningkat.”

Menurut Waters, dia sering melihat klien yang bertekad mengambil liburan ke luar negeri, memperbaiki rumah, dan membeli mobil baru, dan mereka menyebutnya sebagai sesuatu yang harus dimiliki seolah uangnya tak ada batas.

Sementara itu, banyak kliennya yang kesulitan untuk meningkatkan jumlah tabungan pensiun mereka.

“Tidak satu pun dari kemewahan ini yang dilarang atau dianggap rakus. Tetapi gaya hidup yang buruk adalah ada keharusan untuk memiliki semuanya. Rumah, mobil, anggaran traveling, merenovasi dapur, dan sekolah swasta anak,” katanya.

Inflasi gaya hidup biasanya terlihat pada orang yang berpenghasilan tinggi, namun sebenarnya siapa saja dapat terjebak ke dalam inflasi gaya hidup.

Kita sering mengatakan pada diri sendiri, tabungan akan lebih besar setelah naik gaji dan dapat bonus tahunan. Akan tetapi, peningkatan gaya hidup sulit dicegah.

Jika mampu menghasilkan uang untuk keluar dari rumah kontrakan dan membeli rumah baru, bisa jadi kita akan melakukannya.

Meski kita mampu membeli rumah baru, perlu diingat bahwa hal itu akan memangkas jumlah tabungan yang dimiliki.

“Penyebab nomor satu inflasi gaya hidup adalah berbelanja dengan kartu kredit dan melunasinya setiap bulan,” sebut Waters.

“Sama seperti pekerjaan yang bertambah, pengeluaran akan bertambah hingga batas kredit yang diberikan.”

Peningkatan tagihan rata-rata bulanan dari waktu ke waktu adalah bukti bahwa Anda terlena pada gaya hidup yang buruk.

Meningkatkan standar hidup dan berbelanja lebih untuk kemewahan seiring peningkatan pendapatan tidaklah buruk. Namun, ketika standar hidup yang meningkat membuat kita sulit menabung, hal ini bisa menjadi risiko finansial yang besar.

Mencegah inflasi gaya hidup

Jika penghasilan bertambah, bukan hal yang mustahil jika kita dapat membeli rumah besar, sekaligus menabung untuk masa pensiun. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan dan perencanaan yang sama seperti saat kita memiliki penghasilan yang lebih sedikit.

Tinggalkan gaya hidup yang buruk dengan merencanakan alokasi kelebihan kenaikan gaji atau uang bonus untuk membayar hutang, menabung untuk membeli rumah, atau menambah jumlah dana pensiun.

Sebaiknya, pisahkan dana tabungan itu di rekening berbeda agar kita tidak tergoda untuk menyentuh dana tersebut dan berbelanja sesuatu yang tidak esensial.

“Saat Anda mendapatkan kenaikan gaji, penting untuk mengalokasikan dana tersebut secara otomatis setiap bulan dimulai dengan gaji kedua,” ucap Waters.

“Jika tidak, Anda akan memanfaatkan uang ke dalam gaya hidup Anda dan Anda tidak pernah bisa lepas.”

“Untuk bonus, tentukan jumlah yang ingin dikeluarkan dan belanjakan secara royal. Tapi sisanya alokasikan untuk tujuan yang sudah disusun.”

Mengatur pengeluaran

Apabila kita khawatir terjebak dalam inflasi gaya hidup, kita dapat mengubah pengeluaran.

Walter menyarankan untuk mengatur ulang pengeluaran sehingga kita hanya berfokus pada pengeluaran rutin bulanan.

“Biaya variabel bulanan seperti makanan, pakaian, perawatan pribadi, hadiah, dan pembelian untuk rumah adalah hal yang selalu meningkat,” kata Waters.

“Kami lebih suka klien menghitung pengeluaran bulanan mereka, memeriksa ulang untuk memastikan mereka dapat memenuhi target tabungan, dan kemudian memisahkan uang itu ke dalam rekening giro terpisah setiap pembayaran.”

Dengan memisahkan uang ke dalam rekening berbeda, artinya masih ada jumlah uang yang bisa dibelanjakan untuk kebutuhan non-esensial.

Untuk menghitung berapa banyak dana simpanan yang dapat disisihkan setiap bulan, Waters menyarankan kita melakukan studi selama tiga bulan.

Cetak mutasi rekening dari tiga bulan terakhir yang menunjukkan jumlah uang yang dibelanjakan.

Kategorikan semua pengeluaran tidak penting, hitung rata-rata bulanan, dan jumlahkan semuanya untuk menentukan anggaran Rekening Main.(kompas.com)