BOGOR – WARTA BOGOR – Cuaca panas yang terasa menyengat di wilayah Bogor belakangan ini bukan disebabkan oleh gelombang panas ekstrem.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, kondisi tersebut merupakan fenomena yang umum terjadi saat masa peralihan musim atau pancaroba.
Pada periode ini, langit cenderung cerah dengan tutupan awan yang minim, sehingga radiasi sinar matahari dapat langsung mencapai permukaan bumi tanpa banyak hambatan. Akibatnya, suhu udara pada siang hari terutama sekitar pukul 11.00 hingga 15.00 WIB terasa lebih panas dari biasanya.
Selain itu, posisi matahari yang berada di sekitar wilayah ekuator turut meningkatkan intensitas panas yang dirasakan di Indonesia.
BMKG menegaskan, fenomena ini bukan termasuk kategori gelombang panas seperti yang terjadi di negara-negara subtropis.
Saat ini, Indonesia tengah memasuki fase peralihan dari musim hujan menuju musim kemarau. Seiring waktu, suhu panas pada siang hari diperkirakan masih akan terasa dalam beberapa waktu ke depan.
Bahkan, musim kemarau 2026 diprediksi datang lebih awal di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat. Periode kemarau diperkirakan berlangsung mulai April hingga Juni 2026, dengan puncaknya sekitar Agustus.
Waspada Potensi Kekeringan
BMKG juga mengingatkan adanya potensi kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama dari biasanya. Kondisi ini berpotensi berdampak pada ketersediaan air bersih serta sektor pertanian jika tidak diantisipasi sejak dini.
Meski demikian, kondisi cuaca panas yang terjadi saat ini masih tergolong normal dan merupakan bagian dari siklus iklim tahunan.
Masyarakat diimbau untuk menjaga kesehatan, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari langsung, serta menggunakan air secara bijak.
Sumber: Seputar Cibubur