Trump Hentikan Operasi Militer di Selat Hormuz!

JAKARTA – WARTA BOGOR – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan penghentian sementara operasi militer untuk mengawal kapal di Selat Hormuz, Selasa (6/5/2026) waktu setempat.

Keputusan ini diambil hanya sehari setelah Trump mengumumkan “Project Freedom (Proyek Kebebasan)”, yang diklaim bertujuan membantu kapal keluar dari Selat Hormuz di tengah ketegangan dengan Iran.

Melalui akun media sosial Truth Social, Trump mengatakan penghentian operasi dilakukan atas permintaan mediator, termasuk Pakistan, serta mengklaim adanya kemajuan menuju kesepakatan dengan Teheran.

“Kami telah sepakat bahwa, meskipun blokade akan tetap berlaku sepenuhnya, Proyek Kebebasan… akan dihentikan sementara untuk jangka waktu singkat untuk melihat apakah Perjanjian tersebut dapat diselesaikan dan ditandatangani,” kata Trump.

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan bahwa operasi ofensif terhadap Iran yang dinamakan “Operasi Epic Fury” telah berakhir.

“Operasi telah berakhir Epic Fury seperti yang diberitahukan Presiden kepada Kongres. Kita sudah selesai dengan tahap itu,” ujar Rubio di Gedung Putih.

Ia menegaskan bahwa bentrokan di Selat Hormuz bukan bagian dari operasi awal dan menyebut langkah militer yang dilakukan bersifat defensif.

“Bentrokan di Selat Hormuz bukanlah bagian dari perang awal,” tegasnya.

“Ini bukan operasi ofensif; ini adalah operasi defensif,” tambahnya.

“Dan artinya sangat sederhana, tidak ada tembakan kecuali kita ditembak terlebih dahulu.”

Ketegangan di kawasan meningkat sejak serangan militer oleh AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan Ayatollah Ali Khamenei serta menghancurkan sejumlah fasilitas militer dan ekonomi.

Meski demikian, serangan tersebut tidak menjatuhkan pemerintahan di Teheran. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan drone ke berbagai wilayah Timur Tengah yang memiliki kepentingan AS dan Israel.

Pada 8 April, Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran yang kemudian diperpanjang, meskipun proses negosiasi masih menemui hambatan.

Rubio menyebut Amerika Serikat telah mencapai tujuan militernya, namun tetap membuka peluang penyelesaian melalui jalur diplomasi.

“Orang-orang ini menghadapi, mereka menghadapi kehancuran nyata dan dahsyat bagi ekonomi mereka,” ujarnya, seraya menambahkan bahwa Trump lebih memilih kesepakatan yang dinegosiasikan.

 

 

 

 

 

Sumber: CNBC Indonesia