BOGOR – WARTA BOGOR – Tingkat pengangguran yang cukup tinggi di Kota Bogor menjadi salah satu masalah yang harus diselesaikan oleh Pemkot Bogor.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan tingkat pengangguran terbuka di Kota Bogor mencapai angka 8,13 persen pada tahun 2024.
Wali Kota Bogor, Dedie Rachim mengatakan terdapat tantangan yang mesti dihadapi Kota Bogor dalam menyelesaikan masalah ini. Salah satunya adalah sikap orang tua yang terlalu protektif terhadap anaknya.
“Banyak orang tua yang tidak mengizinkan anaknya kerja di luar Bogor dan jauh-jauh. Sementara lapangan pekerjaan di Bogor sudah sempit dan padahal peluang kerja bukan hanya di Bogor saja,” kata Dedie.
Selain itu, Dedie juga menyebutkan pengangguran banyak terjadi karena daya juang warga yang lemah. Hal itu ditemukannya dalam beberapa kasus.
“Ada warga Kota Bogor yang sudah diberikan peluang kerja tapi ditolak karena lokasi tempat kerjanya dianggap jauh. Padahal masih di area Gunung Putri, Kabupaten Bogor,” ucapnya.
“Kebutuhan itu sebenarnya bisa dipenuhi kalau orang tua tidak protektif pada anaknya dan daya juang masyarakat dipicu,” imbuh Dedie.
Ia mengungkapkan pada saat ini Jepang tengah kekurangan tenaga kerja. Mereka membutuhkan 30 ribu pekerja per tahun.
Hal ini terjadi karena Jepang sedang berusaha menggantikan pekerja dari negara lain dengan pekerja dari Indonesia.
Dedie menyebut penggantian itu karena orang Indonesia dinilai sebagai pribadi yang memiliki kesan baik di mata Jepang.
Sumber: Radar Bogor