BADUNG-WARTABOGOR.id –Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) pernah berpesan agar mahasiswa pertanian wajib memiliki kesiapan dan kesigapan dalam menghadapi tantangan. “Harus mampu memecahkan segala persoalan dengan cara-cara baru berbasis teknologi,” ujar Mentan Syahrul ketika memberikan kuliah umum kepada mahasiswa beberapa waktu yang lalu.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Prof Dedi Nursyamsi, pun mengamini. Ia menegaskan, mahasiswa Polbangtan/PEPI sudah seharusnya menjadi motor penggerak transformasi pertanian tradisional Indonesia menuju modern, sesuai kodratnya sebagai generasi milenial.
Generasi milenial memang diharapkan bisa mendobrak dengan inovasi yang berguna bagi masyarakat. Seperti yang dilakukan oleh petani milenial dari Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor ini yang memanfaatkan akar bambu menjadi zat tumbuh dan mengajak petani lainnya untuk mulai bertani organik.
“Di desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung ini saya melakukan inovasi yang mengarah ke sistem pertanian organik karena terdapat beberapa permasalahan di desa, diantaranya tanah yang kurang subur dan penggunaan pupuk kimia yang berlebihan sehingga struktur tanah menjadi kurang bagus,” ungkap mahasiswa tingkat akhir Polbangtan Bogor, Nurmala Alqisthi Najmudillah.
Dengan teknologi ini, lanjut Nurmala, diharapkan dapat memperbaiki pertumbuhan tanaman sehingga produksi dan kualitas tanaman dapat terjamin, di samping berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman juga dapat memperbaiki kembali kesuburan tanah.
“Inovasi yang saya sampaikan ke petani yaitu Plant Growth Promoting Rhizobacteria atau bakteri penumbuh akar. Karena akar merupakan hal yang paling utama dalam pertumbuhan tanaman. Jika akar tanamannya sehat dan bagus maka pertumbuhannya pun akan bagus pula,” tuturnya.
PGPR ini dibuat Nurmala dari bahan-bahan alam yaitu menggunakan akar bambu yang mudah ditemukan sekitaran desa. Agar petani mau dan mampu menerapkannya, Nurmala mengaku meminta izin kepada Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) setempat untuk door to door menyampaikan informasi terkait PGPR. Hal ini ia lakukan karena tidak boleh ada kerumunan seperti kegiatan penyuluhan, untuk menghindari dampak pandemi Covid-19. Namun demikian ia tak melupaka protokol kesehatan sesuai himbaun pemerintah.
“Ketika saya melakukan kegiatan door to door, banyak petani yang antusias dalam menyerap informasi yang saya sampaikan mengenai PGPR dari akar bambu tersebut,” bebernya.
Nurmala sendiri membuat uji perbandingan tanaman, antara tanaman dengan perlakuan PGPR dengan tanaman yang menggunakan pupuk kimia di tahap awal pertumbuhan. “Pertumbuhan tanaman dengan menggunakan PGPR ini dilihat dari fisiologisnya lebih tegap daripada tanaman yang tidak menggunakan PGPR,” jelasnya
PGPR ini diharapkan agar petani dapat menerapkan sistem pertanian organik, dengan memperhatikan kesehatan dari segi manusia juga dari segi kesehatan lahan/tanah itu sendiri.
Ketua Kelompoktani Mekarsari Udin mengatakan pembuatan PGPR dari akar bambu ini sangat bermanfaat baginya dan tertarik untuk mengaplikasikannya. “PGPR sangat berpengaruh terhadap tahap awal pertumbuhan di bandingkan dengan cara yang masih konvensional menggunakan pupuk kimia,” ungkapnya.
Begitu juga Iwan Ridwan, anggota kelompoktani Mekarsari 4, mulai tertarik mengembangkannya. “Kebetulan beliau satu-satunya petani yang menerapkan sistem pertanian organik dan juga beliau suka mendalami mengenai pertanian terbarukan di lahannya. Inovasi PGPR ini sangat membantu beliau untuk mengulik dan mendalami mengenai PGPR agar inovasi tersebut dapat diterapkan di lahannya sendiri,” tambah Nurmala.
Penyuluh Pertanian Desa Ciapus Paris mengungkapkan kebanggaannya dengan inovasi yang dikembangkan Nurmala. Dirinya juga menyampaikan bahwa teknologi inovasi ini diharapkan dapat mengubah perilaku petani khususnya di desa Ciapus diantaranya kelompoktani Babakan, Mekarsari 2, Mekarsari 3 dan Mekarsari 4. “Dengan dikenalkan teknologi ini semoga dapat memacu petani mengembangkan pertanian organik untuk meningkatkan produksi pertanian yang sehat,” pungkasnya.
Pewarta : Arif Prastiyanto – Polbangtan Bogor
JABAR - WARTA BOGOR - Program renovasi rumah tidak layak huni di Jawa Barat resmi…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Bareskrim Polri menggerebek rumah produksi gas nitrous oxide (N2O) merek…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa dirinya telah “membuka…
CILEUNGSI - WARTA BOGOR - Alat deteksi dini banjir berbasis teknologi resmi dioperasikan di aliran…
TANAH LAUT-WARTA BOGOR – Gerakan Tanam Serempak seluas 10.000 hektare yang dilaksanakan di 17 provinsi…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan memberikan perhatian terhadap pengadaan puluhan…