BOGOR-WARTABOGOR.id-Begitu cepatnya bulan Ramadhan pergi meninggalkan beribu kenikmatan yang terkandung di dalamnya.
Walaupun bulan Ramadhan sudah berakhir, namun umat Islam menyambut bulan baru yakni bulan Syawal yang di dalamnya terkandung banyak kenikmatan.
Salah satunya yakni berpuasa Sunnah yang lebih dikenal dengan puasa Syawal.
Lantas bagaimana tatacara puasa Syawal?
Menjawab pertanyaan tersebut, dikutip dari (kompas.com) yang menghubungi Guru Besar Bidang Ilmu Filsafat Pendidikan Islam IAIN Surakarta Prof. Toto Suharto.
Toto mengatakan puasa Syawal itu hukumnya sunnah.
“Puasa Syawal itu hukumnya sunnah,” kata Toto.
Tatacara Puasa Syawal
Adapun tatacara Puasa Syawal tidak ada perbedaan dengan puasa Ramadhan, yang membedakan hanyalah niat.
Berikut niat puasa sunnah di bulan Syawal :
“Nawaitu sauma ghadin ‘an ada’i sunnatissyawali lillahi ta’ala.”
Artinya : “Aku berbuat puasa sunnah Syawal esok hari Karena Allah SWT.”
Seperti yang telah diketahui, setiap orang yang berpuasa dianjurkan untuk makan sahur yang dilakukan sebelum subuh.
Tetapi bila tidak makan sahur, puasa orang tersebut tetap dianggap sah karena hukum makan sahur adalah sunnah.
Setelah berniat puasa Syawal dan makan sahur, maka orang tersebut harus menahan diri dari godaan-godaan yang akan membatalkan puasa.
Batas waktunya juga sama dengan puasa Ramadhan, yakni hingga waktu Maghrib tiba.
Setelah seharian puasa, setiap Muslim wajib menyegerakan untuk berbuka puasa guna membatalkan puasanya.
Keutamaan Puasa Syawal
Adapun keutamaan yang pertama yakni akan mendapatkan pahala puasa selama setahun penuh.
Hal itu merujuk dari dalil yang shahih :
“Barangsiapa yang telah melaksanakan puasa Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan berpuasa selama 6 (enam) Hari selama Bulan Syawal, maka dia mendapatkan pahala (sebagaimana) orang yang berpuasa selama setahun.” (HR. Muslim no 1164)
Berdasarkan hadist ini, kata Toto keutamaannya adalah sama dengan berpuasa setahun.
“Perhitungannya begini. Setiap amalan itu dibalas 10 kalinya. Enam hari dikali 10 pahala berarti 60, yang sama dengan dua bulan. Kemudian ketika sebulan puasa Ramadhannya lunas ditunaikan. Berarti 1 Kali 10 sama dengan 10 bulan. Dua bulan ditambah sepuluh bulan sama dengan duabelas bulan atau satu tahun,” jelasnya.
Toto menjelaskan, yang membedakan puasa Ramadhan dan puasa Syawal adalah pada saat melaksanakan puasa 6 hari di Bulan Syawal, boleh dilakukan secara berurutan atau berselang hari, yang penting masih di bulan Syawal.
Namun puasa Syawal sebaiknya dilakukan sesegera mungkin.
Dikutip dari: kompas.com
JAKARTA-WARTA BOGOR – Mengikuti jejak Australia, India kini turut melirik potensi pasokan pupuk dari Indonesia.…
WARTA BOGOR - Penerapan kebijakan work from home (WFH) setiap hari Jumat bagi aparatur sipil…
BOGOR - WARTA BOGOR - Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan pendakwah Syekh Ahmad Al-Misry…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto, resmi ditahan oleh Kejaksaan…
JABAR - WARTA BOGOR - Program renovasi rumah tidak layak huni di Jawa Barat resmi…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Bareskrim Polri menggerebek rumah produksi gas nitrous oxide (N2O) merek…