Jawaban Bima saat mendapat Usulan Menerapkan Sistem JakLingko di Kota Bogor

BOGOR – WARTA BOGOR – Pengamat Transportasi dan Tata Kota, Yayat Supriatna mengusulkan untuk menerapkan sistem integrasi transportasi yang diterapkan di DKI Jakarta, JakLingko, untuk mengatasi kesemrautan dan kemacetan akibat supir angkot yang sering mengetem secara sembarangan.

Dia berpendapat, sistem JakLingko bisa menjadi solusi atas persoalan yang terjadi di Kota Bogor. Bukan hanya menyelesaikan kemacetan, sistem JakLingko juga dapat memberikan manfaat kepada supir dan pengusaha angkot serta Pemkot Bogor.

Menjawab usulan ini, Wali Kota Bogor, Bima Arya mengatakan dirinya tengah melakukan penataan angkot seperti konsep yang diterapkan pada JakLingko. Bahkan Bima Arya mengklaim konsep ini lebih dulu dicanangkan Pemkot Bogor jauh sebelum JakLingko berjalan.

“Memang dari awal konsepnya begitu (seperti JakLingko), angkot jadi feeder dan nanti akan dilakukan rerouting secara bertahap. Kota Bogor sudah 10 tahun lalu menrencanakan angkot jadi feeder, setelah konversi terjadi,” ujar Bima saat ditemui Radar Bogor, Rabu (24/1/2024).

Namun rencana tersebut tidak berjalan lancar bahkan tersendat-sendat. Hal ini karena persoalan keuangan dan subsidi yang tidak bisa ditanggung Kota Bogor. Dirinya mengakui kemampuan Kota Bogor tidak lebih baik dibandingkan DKI Jakarta yang bisa menerapkan konsep tersebut.

“Jakarta tidak ada persoalan keuangan, ada Transjakarta dan segala macam. Jakarta ada subsidi. Kalau di Kota Bogor subsidinya tidak mudah,” ungkap Bima.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Bogor, Marse Hendra Saputra menjelaskan pola yang ada pada JakLingko sudah dijalankan pihaknya yakni menerapkan angkot sebagai feeder. Namun yang membedakan yaitu belum menggunakan kendaraan seperti halnya sistem JakLingko di Jakarta.

“Secara bertahap kami akan coba. Makanya usia angkot akan kami kurangi dan batasi sehingga orang nai tepat waktu, aman dan terjangkau,” kata Marse.

Menurut Marse, penanganan kemacetan bisa diselesaikan melalui penataan ulang rute trayek angkot (re-routing) yakni mengubah rute angkot yang ada sehingga lebih mendekatkan ke calon penumpang.

“Ada pembedaan trayek utama dan trayek feeder. Ini yang sedang kami tata untuk titik-titik tertentu supaya lebih baik, tapi tidak menghilangkan pelayanan ke masyarakat,” lanjutnya.

Pemkot berencana mengubah trayek angkot di sekitaran pusat kota seperti Lawang Seketeng dan Pasar Pedati supaya tidak menumpuk dan mengakibatkan kemacetan.

Sebaliknya, rute angkot akan dihadirkan pada ruas-ruas jalan yang selama ini tidak terlayani angkutan umum padahal permintaannya meningkat seiring tumbuhnya perumahan dan pusat perdagangan.

 

Sumber: Radar Bogor