Berita

Kasus Keracunan MBG Kembali Terjadi, DPR Soroti Kinerja dan Pengawasan BGN

JAKARTA – WARTA BOGOR – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menyoroti kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami 431 santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo.

Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini meminta Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan seluruh korban mendapatkan penanganan medis yang baik. Ia juga menegaskan biaya penanganan para korban harus menjadi tanggung jawab BGN.

“Saya minta korban keracunan ditangani dengan baik dan biayanya ditanggung oleh BGN,” kata Yahya kepada wartawan, Rabu (2/9/2026).

Advertisement

Yahya menilai masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan tata kelola program MBG masih perlu diperbaiki. Menurutnya, langkah pembenahan yang telah dilakukan belum menjangkau seluruh dapur penyedia makanan dalam program tersebut.

Karena itu, ia meminta BGN melakukan investigasi secara menyeluruh dan terbuka untuk mengetahui penyebab terjadinya keracunan. Hasil investigasi tersebut dinilai penting sebagai dasar untuk melakukan pembenahan tata kelola program secara lebih rinci.

Pertanyakan Pola Pengawasan

Advertisement

Yahya mengapresiasi langkah BGN yang menutup sementara dapur penyebab terjadinya keracunan serta mencopot kepala dapur.

Meski demikian, menurutnya, langkah tersebut perlu dilanjutkan dengan evaluasi secara menyeluruh terhadap tata kelola, sistem pengawasan, serta sumber daya manusia yang mengelola dapur MBG.

“Sebagian besar kasus keracunan terjadi akibat kelalaian pengelolaan makanan yang menjadi tanggung jawab kepala dapur,” ujarnya.

Advertisement

Untuk mencegah terulangnya kejadian serupa, Yahya meminta BGN meningkatkan kapasitas para kepala dapur agar dapat menjalankan tugas secara lebih profesional, berintegritas, dan disiplin.

Selain itu, ia juga mendorong agar pengawasan terhadap setiap dapur MBG dilakukan secara berkala dengan mekanisme yang lebih presisi.

Yahya turut mengusulkan pembentukan Satuan Tugas atau Satgas MBG yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah daerah, dinas kesehatan, kepala sekolah, hingga orang tua murid.

Advertisement

“Masih terjadinya kasus keracunan menunjukkan masih lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh BGN,” katanya.

 

 

Advertisement

 

 

 

Advertisement

 

 

 

Advertisement

Sumber: Liputan6

Share

Recent Posts

IFAD Kunjungi Polbangtan, Tinjau Keberhasilan YESS dan Penjajakan Program YESSI

BOGOR-WARTA BOGOR – Keberhasilan Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS) dalam mendorong kemandirian…

1 hour ago

10 Hari Ditempa, Mahasiswa Baru Polbangtan Kementan Siap Jadi Generasi Penggerak Pertanian

BOGOR-WARTA BOGOR – Memasuki Tahun Akademik 2026/2027, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor kembali menyelenggarakan Masa…

1 hour ago
Advertisement

Wali Kota Bogor Minta Konsep Leuweung Batutulis Dikembalikan sebagai Hutan Kota

BOGOR - WARTA BOGOR - Konsep pembangunan Leuweung Batutulis yang saat ini tengah dikerjakan oleh…

5 hours ago

Jadi Tamu Kehormatan, Prabowo Bertolak ke Rusia Hadiri Eastern Economic Forum ke-11

JAKARTA - WARTA BOGOR - Presiden Prabowo Subianto bertolak menuju Vladivostok, Rusia, untuk menghadiri Eastern…

6 hours ago

Perjalanan Masa Kecil Bahlil Lahadalia Diangkat ke Serial Animasi ‘Melangkah dari Timur’

WARTA BOGOR - Perjalanan hidup Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia semasa…

21 hours ago

Progres Pembangunan Trase Baru Jalan Batutulis Capai 45 Persen, Targetkan Awal November dibuka

BOGOR - WARTA BOGOR - Pembangunan trase baru Jalan Batutulis di Kota Bogor terus dikerjakan.…

1 day ago