BOGOR-WARTABOGOR.id – Sayuti Melik, sosoknya dikenal sebagai pengetik naskah proklamasi yang disusun Ir Soekarno pada 16 Agustus 1945, sehari sebelum naskah proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan.
Buku berjudul wawancara Arif Suyudi dengan Sayuti Melik yang diterbitkan CSIS pada 1986 mengulas peristiwa sebelum proklamasi, Salah satunya sejak 15 Agustus 1945.
Sayuti Melik sempat dipenjara oleh Pemerintah kolonial Jepang karena aktivitasnya untuk memerdekakan Indonesia. Dia ditahan di penjara Ambarawa kemudian dibebaskan.
“Saya baru bertemu bung Karno 15 Agustus petang di rumahnya di jalan pegangsaan Timur. Setelah kurang lebih dua jam, bung Karno mengajak saya berbincang, waktu sudah malam. Datanglah beberapa pemuda yang ingin bertemu bung Karno. Yang saya kenal betul diantara pemuda itu ialah Wikana,” ucap Sayuti Melik.
Wikana adalah salah satu pemuda yang menculik Bung Karno dan Moh Hatta ke Rengasdengklok, Karawang. Para pemuda itu, mendesak bung Karno agar segera memerdekakan Indonesia.
“Singkatnya dalam pembicaraan itu pemuda menyampaikan berita pada Bung Karno bahwa Jepang sudah menyerah pada sekutu 15 Agustus. Mereka (pemuda) mendesak Bung Karno segera memproklamasikan kemerdekaan pada malam hari itu atau esok harinya,” kata dia.
Perdebatan Bung Karno dan Moh Hatta malam itu terlihat sengit. Para pemuda tetap memaksa, sedangkan Bung Karno tetap bersikukuh untuk bersabar. Bahkan Bung Hatta kata Wikana, sempat menanggapi dengan keras.
Ia menyebut, bung Hatta merespon dengan mengatakan, “kalau saudara berkeyakinan demikian, proklamasikan sendiri kemerdekaan itu, jangan orang lain dipaksa. Kami sudah punya rencana sendiri.”
Pagi harinya Bung Karno dan Bung Hatta dibawa pergi oleh beberapa pemuda. Tapi saya sendiri tidak menyaksikan sendiri peristiwanya sebab saya tidur pulas. Saya baru tau mereka dibawa ke Rengasdengklok dari Dr Muwardi dan baru kembali ke Jakarta pada 16 Agustus,” ucap Sayuti Melik.
Sepulangnya dari Rengasdengklok, Bung Karno, Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo menyusun konsep naskah proklamasi. Kata dia, dalam proses penyusunan naskah, yang paling banyak bicara adalah Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo.
Sedangkan Bung Karno menulis. Coretan-coretan tangan Bung Karno pada konsep naskah yang ditulisnya hasil perundingan mereka bertiga.
Setelah selesai, konsep berupa tulisan bung Karno dibacakan di hadapan para hadirin Wakil bangsa. Namun, golongan pemuda sempat mendebat alot. Lobi- lobi pun dilakukan. Dia mewakili bung Karno. Sayuti pun mengusulkan pendapat.
“Timbul pemikiran saya, jika naskah proklamasi kemerdekaan itu ditandatangani oleh bung Karno dan bung Hatta saja atas nama bangsa Indonesia. Tentu semua pihak akan menerima dengan baik. Pemikiran saya itu lalu saya tawarkan kepada semua pihak dan ternyata bisa diterima,” ucapnya.
“Setelah mendengar usul demikian, bung Karno lalu menyuruh saya untuk mengetik (naskah proklamasi) nya. Perintahnya “Ti, Ti, tik, tik!” ucap Sayuti menirukan perintah bung Karno.
Menggunakan mesin tik, Sayuti kemudian mengetiknya di ruangan lain di rumah Laksamana Maida.
“Saya adakan perubahan sedikit mengenai ejaan serta beberapa kata seperti : “Wakil-wakil bangsa Indonesia menjadi atas nama bangsa Indonesia, dan saya tambahkan kata Soekarno-Hatta,” ucapnya.
Ia mengaku melakukan perubahan itu karena dia pernah sekolah guru.
“Jadi kalau ejaan Bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada bung Karno. Okeh karena tergesa-gesa, sebab waktu jelang dini hari, maka hasil ketikan tadi tidak rapi. Sedikit agak mencong (tidak lurus). Sedangkan konsep tulisan tangan Bung Karno saya tinggalkan begitu saja dekat mesin tik,” ucapnya.
Setelah naskah yang dia ketik dibacakan di depan rapat dan disetujui, barulah bung Karno dan bung Hatta membubuhkan tanda tangannya.
“Karena tergesa-gesa, maka tidak terpikirkan perlunya mengetik rangkap untuk arsip. Jadi hanya saya buat satu lembar saja. Dengan demikian, naskah resmi adalah naskah yang saya ketik, yang kemudian dibacakan pada 17 Agustus 1945 oleh bung Karno jalan Pegangsaan Timur no 56 Jakarta pukul 10.00 pagi,” ucapnya.
Saat pembacaan naskah proklamasi, tidak banyak yang hadir. Menurutnya, hanya sekira 100-an. Upacara berlangsung khidmat walaupun sederhana. (tribunnews.com)
JAKARTA-WARTA BOGOR – Mengikuti jejak Australia, India kini turut melirik potensi pasokan pupuk dari Indonesia.…
WARTA BOGOR - Penerapan kebijakan work from home (WFH) setiap hari Jumat bagi aparatur sipil…
BOGOR - WARTA BOGOR - Kasus dugaan pelecehan seksual yang melibatkan pendakwah Syekh Ahmad Al-Misry…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Ketua Ombudsman Republik Indonesia, Hery Susanto, resmi ditahan oleh Kejaksaan…
JABAR - WARTA BOGOR - Program renovasi rumah tidak layak huni di Jawa Barat resmi…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Bareskrim Polri menggerebek rumah produksi gas nitrous oxide (N2O) merek…