JAKARTA – WARTA BOGOR – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menargetkan nilai tukar rupiah kembali berada di level Rp15.000 per dolar Amerika Serikat (AS).
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan melakukan berbagai langkah, mulai dari intervensi di pasar obligasi hingga menarik lebih banyak devisa asing masuk ke Indonesia.
Purbaya optimistis rupiah akan kembali menguat meskipun sebelumnya sempat menyentuh level Rp17.700 per dolar AS.
Dalam kesempatan itu, ia juga meminta para pemilik valuta asing (valas) segera menjual dolar yang dimiliki karena rupiah diperkirakan akan menguat dalam waktu dekat.
“Kalau saya bilang pemain valas cepat-cepat jual lah, kita akan dorong rupiah ke arah Rp15 ribu. Kata Pak Presiden, ‘kalau Purbaya masih senyum, ekonomi aman’, ini senyum terus nih,” kata Purbaya dalam Jogja Financial Festival 2026, dikutip secara daring, Jumat (22/5/2026).
Salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat rupiah dilakukan melalui instrumen penempatan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA). Kebijakan tersebut mewajibkan DHE SDA ditempatkan di bank-bank BUMN mulai 1 Juni 2026.
Selain itu, pemerintah juga melakukan intervensi di pasar obligasi guna menjaga yield surat utang negara agar tidak naik terlalu tinggi.
Menurut Purbaya, langkah tersebut penting agar investor asing tidak menarik dananya dari Indonesia akibat kerugian.
“Kita juga membantu (stabilisasi) nilai tukar dari sisi pemerintah. Saya masuk ke pasar obligasi supaya yield-nya gak naik terlalu tinggi, artinya asing tidak terpaksa harus keluar dari Indonesia karena rugi. Ini sudah berdampak,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa meskipun rupiah masih melemah terhadap dolar AS, yield obligasi justru mengalami penurunan dalam sepekan terakhir karena pemerintah membeli obligasi di pasar sekunder. Menurutnya, kebijakan tersebut mulai menunjukkan hasil positif.
“Jadi teman-teman gak usah takut tuh yang ribut-ribut nilai tukar akan jeblok seperti 1998, nanti Juni akan ada supply dolar yang signifikan ke ekonomi kita. Jadi rupiah akan menguat,” tegas Bendahara Negara tersebut.
Sementara itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo juga meyakini rupiah akan menguat secara bertahap mulai Juli 2026. Ia menilai terdapat faktor musiman yang mendukung penguatan mata uang nasional tersebut.
Perry menjelaskan bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS saat ini dipengaruhi kondisi global. Salah satu langkah yang dilakukan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah ialah melalui penyesuaian suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen.
“Kalau kita melihat histori itu memang rupiah itu mendapat tekanan April, May, Juni tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus,” ujar Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (20/5/2026) lalu.
Sumber: Liputan6
BOGOR-WARTA BOGOR — Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor melaksanakan pembukaan sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa dari…
BOGOR - WARTA BOGOR - Warga di wilayah Parung dan Ciseeng, Kabupaten Bogor, belakangan dihebohkan…
Oleh: Dr. Suhandi, S.Pd.I., M.Pd.I. Pengawas Syariah LAZ Ummul Quro Bogor & Sekretaris Pengurus Daerah…
Oleh: Dr. Hepi Andi Bastoni, M.A., M.Pd.I (Ketua IKADI Kota Bogor) Pada pertengahan Mei 2026,…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Sebanyak 9 warga negara Indonesia (WNI) relawan Global Sumud Flotilla…
BOGOR - WARTA BOGOR - Fenomena menyerupai hujan abu terjadi di Kampung Jampang Batas, Desa…