BOGOR-WARTA BOGOR — Keluarga memegang peran kunci dalam membentuk ketahanan mental dan emosi setiap anggotanya. Rumah bukan sekadar tempat tinggal, melainkan harus menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi keluarga saat menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Hal tersebut disampaikan Ustadzah Euis Sufi Jatiningsih, Mubaligh Persaudaraan Muslimah (Salimah) Kota Bogor, dalam kajian bertema “Pondasi Spiritual dan Ketahanan Mental Keluarga.”
Ustadzah Euis mengingatkan bahwa Al-Qur’an telah menggambarkan sejumlah kecenderungan manusia dalam menanggapi berbagai keadaan. Dalam QS. Al-Ma’arij ayat 19, manusia digambarkan memiliki sifat halu’a, yang di antaranya berarti mudah gelisah dan berkeluh kesah. Sementara dalam QS. Al-Isra ayat 11, manusia disebut memiliki kecenderungan untuk tergesa-gesa.
Manusia cenderung menahan diri atau enggan berbagi saat memperoleh kenikmatan. Sebaliknya, ketika menghadapi kesedihan dan kesulitan, manusia dapat terjebak dalam rasa putus asa.
Menurut Ustadzah Euis, gambaran ini adalah peringatan sekaligus pengingat agar manusia menyadari kelemahannya dan senantiasa kembali pada jalan yang telah ditetapkan Allah SWT melalui Al-Qur’an.
Shalat dan Pengendalian Diri
Salah satu pondasi yang ditekankan adalah menjaga kelestarian shalat. Shalat bukan sekadar ibadah ritual, melainkan harus tercermin pula dalam kehidupan sosial, disertai kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Dengan demikian, spiritualitas tidak hanya berkaitan dengan hubungan hamba dengan Allah SWT, tetapi juga terwujud dalam cara seseorang mengelola diri dan memperlakukan sesama.
Islam memberikan panduan agar manusia senantiasa berupaya menjadi pribadi yang sungguh-sungguh dan sabar dalam menegakkan kebenaran.
Rumah sebagai Benteng Keluarga
Dalam kehidupan rumah tangga, pemahaman adalah hal yang sangat mendasar. Setiap anggota keluarga memiliki emosi, kebutuhan, dan tantangan yang berbeda-beda.
“Boleh bersedih, namun jangan sampai menyakiti,” pesan Ustadzah Euis.
Beliau menegaskan bahwa kesedihan, kecemasan, dan kekecewaan adalah bagian alami dari kehidupan. Namun, emosi-emosi tersebut perlu dikelola dengan bijak agar tidak berkembang menjadi sesuatu yang merugikan diri sendiri maupun hubungan dalam keluarga.
Rumah, menurutnya, harus menjadi ruang aman bagi suami, istri, dan anak-anak untuk mengekspresikan emosi secara sehat.
Komunikasi dan Ibadah Bersama
Komunikasi yang sehat serta sikap saling menghargai merupakan kunci utama menjaga ketahanan mental keluarga. Setiap persoalan yang muncul pun perlu diselesaikan dengan cara yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Kestabilan emosi orang tua sangat berpengaruh terhadap suasana psikologis anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menciptakan lingkungan rumah yang tenang, sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Selain mempererat komunikasi, keluarga juga perlu memperkuat kedekatan dengan Allah SWT melalui doa dan ibadah bersama. Shalat, membaca Al-Qur’an, dan berdoa menjadi ikhtiar nyata keluarga dalam menghadapi rasa cemas, tekanan, dan beban kehidupan.
Pada akhirnya, ketahanan mental keluarga tumbuh dari pemahaman, komunikasi yang baik, kasih sayang, kemampuan mengendalikan diri, serta kedekatan kepada Allah SWT. Apabila pondasi spiritual ini kokoh, rumah akan senantiasa menjadi tempat bertumbuh, berlindung, dan saling menguatkan di tengah segala tantangan kehidupan. (Is)
JAKARTA-WARTA BOGOR — Tahun 2026 sudah memasuki penghujung. Masyarakat kini mulai dapat mempersiapkan berbagai agenda…
BOGOR-WARTA BOGOR — Forum Komunikasi Ormas Islam (FKOI) Kota Bogor bersama Ikatan Dai Indonesia (IKADI)…
CIBINONG - WARTA BOGOR - Salat Istisqo atau salat untuk memohon hujan digelar di Lapangan…
BOGOR - WARTA BOGOR - Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI) Kota Bogor meluncurkan Program…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Jaksa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menampilkan sejumlah barang bukti dalam…
CIBUNGBULANG - WARTA BOGOR - Pembangunan Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) Bogor Raya 1…