Nasional

Respons Konflik Timur Tengah, Prabowo Wacanakan WFH hingga Potong Gaji Pejabat

JAKARTA – WARTA BOGOR – Presiden Prabowo Subianto mengusulkan sejumlah langkah penghematan sebagai respons terhadap dampak konflik di Timur Tengah. Salah satu opsi yang dipertimbangkan adalah penerapan work from home (WFH) bagi instansi pemerintah maupun sektor swasta.

Usulan tersebut disampaikan dengan berkaca pada kebijakan yang telah diterapkan Pakistan dalam menghadapi situasi krisis. Selain WFH, Prabowo juga menyinggung kemungkinan pemangkasan hari kerja menjadi empat hari dalam sepekan.

“Mereka menganggap situasinya sudah kritis, sehingga menerapkan langkah-langkah seperti saat pandemi. Sebagian pegawai bekerja dari rumah, bahkan hari kerja dipangkas menjadi empat hari,” ujar Prabowo dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Advertisement

Tak hanya itu, Prabowo juga mencontohkan kebijakan penghematan lain yang dilakukan Pakistan, seperti pemotongan gaji pejabat negara hingga anggota parlemen untuk membantu kelompok masyarakat rentan.

Selain itu, pemerintah Pakistan juga melakukan efisiensi besar-besaran, mulai dari pembatasan penggunaan bahan bakar minyak (BBM), pengurangan penggunaan kendaraan dinas, hingga penghentian belanja negara tertentu seperti pengadaan kendaraan dan mebel.

DPR Minta Dikaji Matang

Advertisement

Menanggapi wacana tersebut, Anggota Komisi II DPR RI, Ahmad Irawan, menilai kebijakan WFH perlu dikaji secara menyeluruh sebelum diterapkan.

Menurutnya, langkah penghematan memang penting, namun pemerintah juga harus memastikan stabilitas pasokan energi serta menjaga inflasi.

“Wacana tersebut harus dikaji secara menyeluruh, termasuk skenario lain dalam merespons konflik Timur Tengah. Yang paling penting adalah menjaga ketersediaan energi dan pengendalian inflasi,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).

Advertisement

Irawan mengusulkan agar kebijakan WFH, jika diterapkan, difokuskan pada wilayah dengan konsumsi BBM tinggi seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Ia menilai ketiga wilayah tersebut menyumbang sekitar 30 persen konsumsi BBM nasional, sehingga kebijakan WFH berpotensi lebih efektif jika diterapkan secara terbatas.

Sementara itu, daerah lain dinilai tidak perlu menerapkan kebijakan serupa, sehingga dampak ekonomi dapat diminimalkan.

Advertisement

Irawan menegaskan, kebijakan WFH sebaiknya hanya bersifat sementara dan digunakan sebagai langkah darurat. Pemerintah juga diminta melakukan pemetaan serta memberikan penjelasan yang jelas kepada masyarakat dan pelaku usaha sebelum kebijakan diterapkan.

 

 

Advertisement

 

Sumber: detiknews

Advertisement
Share

Recent Posts

Kebakaran di Suryakencana, Jalur Pendakian Gunung Gede Pangrango Ditutup

BOGOR - WARTA BOGOR - Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (BBTNGGP) resmi menutup…

18 hours ago

Prabowo soal Pendidikan Indonesia Tertinggal: Singapura Hanya Urus Satu Kota, Indonesia Punya 388 Ribu Sekolah

JAKARTA - WARTA BOGOR - Presiden RI Prabowo Subianto menilai perbandingan kualitas pendidikan Indonesia dengan…

19 hours ago
Advertisement

BRIN Kembangkan Food Guard, Alat untuk Deteksi Makanan Basi di Ompreng MBG

JAKARTA - WARTA BOGOR - Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Arif Satria, memaparkan…

24 hours ago

LRT Masuk Bogor 2030, Pemkot Soroti Nasib Terminal Baranangsiang yang Tak Ada Perubahan

BOGOR - WARTA BOGOR - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor kembali mempertanyakan kelanjutan pengembangan Terminal Baranangsiang…

2 days ago

Kasus Korupsi Sudah Keterlaluan, MUI Desak Pemerintah dan DPR Terapkan Hukuman Mati bagi Koruptor

JAKARTA - WARTA BOGOR - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendorong pemerintah dan DPR RI untuk…

2 days ago

Buruan Daftar! Pendaftaran Upacara HUT RI di Istana Merdeka Resmi Dibuka, Kuota Terbatas

JAKARTA - WARTA BOGOR - Pemerintah resmi membuka pendaftaran bagi masyarakat yang ingin mengikuti Upacara…

2 days ago