WARTA BOGOR – Menahan buang air kecil kerap dianggap hal sepele. Banyak orang melakukannya karena kesibukan kerja, rapat yang panjang, terjebak kemacetan, atau rasa enggan menggunakan toilet umum. Padahal, jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan ini dapat berdampak buruk bagi kesehatan.
Konsultan Urologi Onkologi Eka Hospital MT Haryono, Agus Rizal A.H. Hamid, menjelaskan bahwa buang air kecil merupakan proses alami tubuh untuk membuang sisa zat yang tidak diperlukan melalui urine.
Dalam kondisi normal, seseorang biasanya buang air kecil sekitar 6–7 kali sehari, tergantung pada asupan cairan dan kondisi tubuh.
“Jika hanya sesekali ditahan dan saluran kemih dalam keadaan sehat, umumnya tidak menimbulkan masalah. Kandung kemih orang dewasa dapat menampung hingga sekitar dua gelas urine,” ujar Agus Rizal dalam diskusi media, dikutip Senin (19/1/2026).
Namun, risiko kesehatan akan meningkat bila kebiasaan menahan buang air kecil dilakukan terlalu sering dan dalam jangka waktu lama.
Dampak Kesehatan Akibat Sering Menahan Kencing
Berikut sejumlah gangguan kesehatan yang dapat muncul akibat kebiasaan tersebut:
Kandung kemih memiliki batas kapasitas. Jika dipaksa menampung urine terlalu lama, otot kandung kemih akan meregang berlebihan sehingga menimbulkan rasa tidak nyaman hingga nyeri, terutama di perut bagian bawah.
Menahan kencing terlalu lama dapat melemahkan otot pengontrol saluran kemih. Akibatnya, urine bisa keluar secara tiba-tiba tanpa disadari, bahkan pada orang dewasa.
Kebiasaan menahan kencing dapat menyebabkan urine tidak keluar sepenuhnya dan tertinggal di kandung kemih. Endapan urine yang terjadi berulang kali berisiko membentuk batu kandung kemih, dengan gejala nyeri saat berkemih, nyeri perut bawah, hingga urine berdarah.
Urine yang tertahan terlalu lama menjadi media ideal bagi bakteri untuk berkembang. Hal ini meningkatkan risiko ISK, terutama pada orang dengan pembesaran prostat, retensi urine, atau gangguan saraf kandung kemih.
Menahan kencing secara terus-menerus juga dapat meningkatkan risiko inkontinensia urine, yaitu ketidakmampuan menahan buang air kecil akibat melemahnya otot kandung kemih atau infeksi berulang.
Dalam kondisi tertentu, urine yang tertahan dapat mengalir kembali ke ginjal dan menyebabkan pembengkakan ginjal atau hidronefrosis. Gejalanya meliputi nyeri punggung, jarang buang air kecil, serta nyeri saat berkemih.
Infeksi saluran kemih yang tidak ditangani dengan baik dapat menyebar ke ginjal. Infeksi ginjal memerlukan penanganan medis segera karena berisiko menyebabkan kerusakan ginjal permanen.
Agus Rizal menyarankan agar masyarakat membiasakan buang air kecil setiap 3–4 jam sekali dan tidak menunda ketika sudah muncul rasa ingin kencing.
Membuat jadwal rutin, seperti setelah bangun tidur, sebelum dan sesudah jam kerja, atau sebelum bepergian jauh, juga dapat membantu.
“Jika muncul keluhan seperti frekuensi buang air kecil meningkat, urine berbau tajam atau keruh, terdapat darah, atau nyeri di area panggul, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter. Gejala tersebut bisa menjadi tanda gangguan saluran kemih yang memerlukan penanganan medis,” tutupnya.
Sumber: CNN Indonesia
SOLO - WARTA BOGOR - Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi) angkat bicara setelah namanya…
BOGOR - WARTA BOGOR - Jalan motor Mbah Dalem Batutulis di Kecamatan Bogor Selatan, Kota…
BOGOR - WARTA BOGOR - Hujan deras yang mengguyur Kota Bogor sejak Rabu (28/1/2026) hingga…
BOGOR - WARTA BOGOR - Program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat) diharapkan menjadi salah satu…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Sleman Kombes Edy Setyanto dan Kepala…
WARTA BOGOR - Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menyebutkan…