Upaya Pemkot Bogor Tangani Efek Gas Rumah Kaca

BOGOR – WARTA BOGOR – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memaparkan sejumlah upaya menangani gas rumah kaca (GRK) efek perubahan iklim melalui beberapa program aksi mempertahankan bangunan sejarah, transformasi tranportasi hingga membuat infrastruktur yang mendukung gaya hidup sehat masyarakat.

“Yang kita lakukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan perkotaan melalui tiga identitas yang ada di Kota Bogor , yakni sebagai heritage city, smart city dan green city,” ujar Sekretaris Daerah Kota Bogor, Syarifah Sofiah, Selasa (10/10).

Syarifah menerangkan di tengah meningkat pertumbuhan penduduk dan padat aktivitas masyarakat, maka tidak bisa dipungkiri kebutuhan transportasi dan penggunaan kendaraan cukup tinggi sehingga mempengaruhi GRK.

Tak hanya itu, keberadaan sampah yang dihasilkan dari rumah tangga yang juga berdampak pada gas metan. Gas rumah kaca adalah gas-gas yang terperangkap pada panas di atmosfer dan dapat menyebabkan kenaikan suhu rata-rata bumi atau mengakibatkan pemanasan global.

Syarifah menjelaskan, program aksi sebagai kota sejarah, Kota Bogor mempertahankan bangunan-bangunan tua yang masih terus terjaga. Sedangkan terkait kota hijau, Kota Bogor memiliki Kebun Raya Bogor, Hutan Cifor, memperbanyak taman, ruang terbuka hijau skala kota maupun di tingkat wilayah kecamatan atau kelurahan dan mempertahankan dan merawat pohon tua yang ada di pinggir jalan.

Dalam bidang transportasi, Syarifah menerangkan sejak beberapa tahun lalu sudah mulai menerapkan bahan bakar gas pada transportasi angkutan perkotaan. Selain itu, menerapkan konversi dua satu dan konversi tiga satu dengan skema tiga angkutan kota menjadi satu bus.

Pemkot Bogor juga sudah mengawali dan memakai kendaraan listrik pada kendaraan dinas. Dalam hal lingkungan, pengelolaan sampah rumah tangga menjadi sirkuler ekonomi. Selain itu, dibangunnya jalur pedestrian agar membiasakan masyarakat untuk berjalan kaki dan jalur sepeda.

“Jadi itu upaya dalam rangka menciptakan lingkungan yang bersih mengurangi karbon dioksida, karbon monoksida, ozon itu kita kurangi dengan melakukan tranformasi seperti di negara maju menuju transportasi sarana publik,” pungkas Syarifah.

 

Sumber: REPUBLIKA