Pertanian

Dari Cigalontang untuk Indonesia, Power Thresher Dorong Efisiensi Panen Padi dan Kurangi Kehilangan Hasil

TASIKMALAYA-WARTA BOGOR – Di tengah hamparan sawah Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya, suara mesin perontok padi mulai menggantikan cara-cara tradisional yang selama ini mengandalkan tenaga manusia. Perubahan ini bukan sekadar soal alat, tetapi tentang langkah maju petani dalam menjaga hasil panen agar tidak terbuang sia-sia.

Perontokan padi merupakan salah satu tahapan paling krusial dalam proses pascapanen. Selama ini, metode konvensional kerap menyebabkan kehilangan hasil yang tidak sedikit, berkisar antara 1,1 hingga 3,1 persen. Angka ini mungkin tampak kecil, namun jika dikalkulasikan dalam skala luas, kerugian tersebut sangat signifikan bagi petani.

Hadirnya power thresher menjadi solusi nyata. Alat perontok padi berbasis mesin ini mampu menekan kehilangan hasil hingga hanya sekitar 0,64–1,21 persen. Lebih dari sekadar alat, teknologi ini membuka peluang efisiensi, kecepatan kerja, serta peningkatan kualitas hasil panen.

Advertisement

Melalui kajian yang dilakukan oleh Wahyu Nur Hamdhani, mahasiswa prodi Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Polbangtan Bogor, terungkap bahwa tingkat adopsi penggunaan power thresher di Cigalontang sudah berada pada kategori relatif tinggi, yakni 46,81 persen. Meski demikian, angka tersebut juga menunjukkan masih adanya ruang besar untuk peningkatan pemanfaatan teknologi di kalangan petani.

Kajian tersebut tidak hanya memotret kondisi di lapangan, tetapi juga mengidentifikasi faktor-faktor kunci yang memengaruhi adopsi. Mulai dari karakteristik inovasi, dukungan sarana prasarana, hingga peran kelembagaan pertanian menjadi penentu utama dalam keberhasilan penerapan teknologi ini.

Di balik angka dan data, terdapat dinamika perubahan perilaku petani yang mulai terbuka terhadap inovasi. Pendekatan yang dilakukan pun tidak berhenti pada pengenalan alat, tetapi dilanjutkan dengan strategi peningkatan adopsi melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan akses terhadap alat dan infrastruktur.

Advertisement

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa penguatan sektor pascapanen merupakan kunci dalam menjaga ketahanan pangan nasional. “Kehilangan hasil panen harus ditekan semaksimal mungkin. Penggunaan alat seperti power thresher adalah langkah konkret dalam meningkatkan efisiensi, menjaga kualitas gabah, dan meningkatkan pendapatan petani,” ujar Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menilai bahwa keberhasilan adopsi teknologi sangat ditentukan oleh pendekatan yang tepat kepada petani. “Kita tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga memastikan petani memahami manfaat dan cara penggunaannya. Pendampingan dan penguatan kelembagaan menjadi kunci agar inovasi seperti power thresher dapat diadopsi secara luas,” ungkapnya.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor, Yoyon Haryanto, menambahkan bahwa kajian ini menjadi contoh nyata bagaimana pendidikan vokasi berkontribusi dalam menjawab persoalan riil di lapangan. “Mahasiswa dan insan pendidikan pertanian harus mampu membaca kebutuhan petani. Kajian seperti ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga solusi strategis yang bisa langsung diterapkan,” jelasnya.

Advertisement

Sementara itu, Kepala Pusat Pendidikan Pertanian (Kapusdiktan), Muhammad Amin, menekankan pentingnya keberlanjutan dalam pengembangan dan diseminasi inovasi. “Adopsi teknologi tidak bisa instan. Perlu strategi yang berkelanjutan, mulai dari edukasi, penyediaan sarana, hingga evaluasi jangka panjang. Dengan begitu, manfaat teknologi benar-benar dirasakan oleh petani,” tuturnya.

Meski telah menunjukkan hasil positif, tantangan tetap ada. Ketersediaan alat, akses infrastruktur, serta pemahaman petani masih menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama. Namun, dengan kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan petani, optimisme untuk meningkatkan efisiensi pertanian semakin kuat.

Dari Cigalontang, sebuah pelajaran penting hadir: bahwa inovasi tidak selalu tentang teknologi baru, tetapi tentang bagaimana teknologi yang ada dapat diadopsi dan dimanfaatkan secara maksimal. Di situlah masa depan pertanian Indonesia dibangun—dari sawah, oleh petani, dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. (wsd)

Advertisement
Share

Recent Posts

Viral Anak Terjatuh ke Area Kandang Gajah Ragunan, Pengelola Sebut Ada Indikasi Pembuatan Konten

JAKARTA - WARTA BOGOR - Sebuah video yang memperlihatkan seorang anak mengenakan pakaian merah terjatuh…

7 hours ago

Festival Tangguh Bencana Bogor Utara 2026, Hadirkan Mitigasi Bencana hingga Pelatihan Kerja

BOGOR - WARTA BOGOR - Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, membuka Festival Kecamatan Tangguh…

9 hours ago
Advertisement

Fenomena Blue Moon Hiasi Langit Indonesia Hari Ini, Simak Fakta dan Waktu Puncaknya

JAKARTA - WARTA BOGOR - Fenomena langka Blue Moon atau bulan biru akan menghiasi langit…

10 hours ago

Pemerintah Kaji Penggunaan CNG Tabung 3 Kg untuk Gantikan LPG Subsidi, Bakal Jadi yang Pertama di Dunia

JAKARTA - WARTA BOGOR - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral tengah mematangkan…

2 days ago

Polisi Selidiki Kasus Pencabulan di Ponpes Ciawi Bogor, Diduga Libatkan Lima Pelaku

BOGOR - WARTA BOGOR - Polisi masih menyelidiki kasus dugaan pencabulan yang terjadi di lingkungan…

3 days ago

Kerbau Albino Mirip Donald Trump Selamat dari Kurban, Kini Dirawat di Kebun Binatang

WARTA BOGOR - Seekor kerbau albino seberat 700 kilogram di Bangladesh mendadak viral karena memiliki…

3 days ago