Umum

JP Morgan mencatat Indonesia Tempati Peringkat ke-2 Negara Paling Tahan Krisis Energi di Dunia

WARTA BOGOR – Indonesia mencatat capaian penting di tengah ketidakpastian energi global. Dalam laporan terbaru JP Morgan bertajuk Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis Maret 2026, Indonesia menempati peringkat kedua dunia sebagai negara paling tahan terhadap krisis energi, khususnya minyak dan gas.

Laporan tersebut menganalisis 52 negara dengan konsumsi energi terbesar yang secara kolektif mencakup sekitar 82 persen konsumsi energi global.

Dari hasil pemetaan itu, Indonesia dinilai memiliki tingkat perlindungan energi yang tinggi, berada tepat di bawah Afrika Selatan.

Advertisement

Ketahanan ini diukur melalui indikator total insulation factor, yaitu kombinasi pemanfaatan sumber energi domestik seperti gas, batu bara, energi terbarukan, hingga nuklir yang membuat suatu negara lebih terlindungi dari fluktuasi pasar global.

Dalam laporan tersebut, peran produksi batu bara domestik Indonesia menjadi sorotan utama dalam menjaga stabilitas energi nasional.

Negara-negara seperti China, India, Indonesia, Afrika Selatan, Vietnam, dan Filipina disebut mendapat manfaat dari produksi batu bara yang signifikan selama terjadi guncangan energi.

Advertisement

Indonesia sendiri didukung kapasitas produksi batu bara yang besar dan relatif tahan terhadap fluktuasi harga minyak global. Selain itu, Indonesia juga merupakan eksportir terbesar batu bara termal di dunia serta produsen gas alam yang cukup penting.

Pada 2024, Indonesia tercatat sebagai produsen gas alam terbesar ke-13 di dunia dengan produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik.

Sebaliknya, sejumlah negara maju seperti Italia, Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Belanda dinilai lebih rentan terhadap gejolak energi global.

Advertisement

Tingginya ketergantungan pada impor minyak dan gas menjadi faktor utama kerentanan tersebut, terutama di tengah ketidakpastian jalur distribusi energi global seperti di Selat Hormuz.

JP Morgan menilai bahwa transisi energi menjadi kunci untuk mengurangi risiko jangka panjang. Penggunaan kendaraan listrik serta pengembangan energi terbarukan dinilai sebagai langkah strategis untuk menekan ketergantungan terhadap minyak dan gas di masa depan.

 

Advertisement

 

 

 

Advertisement

 

 

Sumber: Liputan6

Advertisement
Share

Recent Posts

BGN Coret 1.653 Sekolah dari Daftar Penerima MBG, Ini Alasannya

JAKARTA - WARTA BOGOR - Badan Gizi Nasional (BGN) melakukan pemutakhiran data penerima manfaat program…

33 minutes ago

BMKG Pastikan Wilayah RI Sudah Bersih dari Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau

JAKARTA - WARTA BOGOR - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan wilayah Indonesia, baik…

2 hours ago
Advertisement

Siswi Korban Keracunan MBG Disebut Hilang Ingatan 70%, DPR Minta BGN Tanggung Biaya Perawatan

JAKARTA - WARTA BOGOR - Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini menyoroti kasus…

15 hours ago

DPR Soroti Lahan Bekas Karhutla yang Berubah Jadi Perkebunan Sawit

JAKARTA - WARTA BOGOR - Ketua DPR RI Puan Maharani meminta aparat terkait menyelidiki dugaan…

20 hours ago

KAI Commuter Rekayasa Rangkaian KRL, Rute Bogor Kembali Bertambah 13 Perjalanan

BOGOR - WARTA BOGOR - KAI Commuter kembali menambah 13 perjalanan Commuter Line Bogor mulai…

23 hours ago

Polbangtan Kementan Peringati Maulid Nabi, Tanamkan Keteladanan Rasulullah dalam Kehidupan Akademik

BOGOR-WARTA BOGOR — Suasana khidmat dan penuh kebersamaan menyelimuti Aula Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Bogor,…

2 days ago