BOGOR – WARTA BOGOR – Wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) dikenal sebagai pusat ekonomi nasional dengan tingkat kepadatan penduduk yang sangat tinggi. Namun, di balik pesatnya urbanisasi, kawasan ini juga menyimpan ancaman geologi serius yang perlu diantisipasi, salah satunya keberadaan Sesar Cisadane.
Sesar Cisadane merupakan struktur patahan aktif yang membentang dari Bogor hingga Tangerang. Keberadaannya kembali menjadi sorotan setelah hasil survei geologi serta pemetaan menggunakan teknologi LiDAR mengungkap indikasi aktivitas tektonik yang signifikan di sepanjang jalurnya.
Temuan tersebut memunculkan kekhawatiran akan potensi gempa bumi yang dapat berdampak luas pada jutaan penduduk Jabodetabek.
Patahan Aktif di Kawasan Padat Penduduk
Sesar Cisadane diklasifikasikan sebagai sesar mendatar (strike slip fault) dengan orientasi Tenggara–Barat Laut. Jalurnya mengikuti aliran Sungai Cisadane dan melintasi wilayah strategis seperti Bogor, Cibinong, Tangerang Selatan, hingga Kota Tangerang.
Patahan ini melengkapi deretan sesar aktif yang mengapit Jakarta, bersama Sesar Baribis di bagian selatan dan Sesar Citarik di bagian timur. Letaknya yang berada tepat di bawah kawasan urban padat menjadikan pemahaman terhadap karakteristik Sesar Cisadane sangat penting dalam upaya mitigasi bencana jangka panjang.
Jejak Geologis Sesar Cisadane
Berdasarkan temuan Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), jejak aktivitas Sesar Cisadane terlihat jelas di wilayah Rumpin, Kabupaten Bogor.
Salah satu indikasi kuat adalah terpisahnya Gunung Nyungcung dan Gunung Panjang. Gunung Nyungcung tersusun dari batuan pasir gampingan yang sebelumnya merupakan dasar laut dan terangkat ke permukaan, menandakan aktivitas tektonik di masa lalu. Rekahan memanjang berarah Barat Laut–Tenggara yang memisahkan kedua gunung tersebut disebut sebagai bukti keberadaan Sesar Cisadane yang masih aktif.
Hasil Survei Geologi dan LiDAR
Survei gabungan yang dilakukan oleh PT Oseanland Indonesia, Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Pusat Survei Geologi Kementerian ESDM menghasilkan sejumlah temuan penting.
Temuan tersebut menemukan jejak paleo-rupture berarah Timur Laut–Barat Daya yang melewati Kota Bogor, rekahan memanjang akibat aktivitas sesar, munculnya mata air tepat di zona rekahan sepanjang Sungai Cisadane dan Sungai Ciliwung, teras sungai dan morfologi gawir sungai, serta jejak paleo-river di aliran Sungai Cisadane.
Di wilayah Gunung Putri, ditemukan pula sesar naik berarah Barat–Timur yang berpotongan dengan Sesar Baribis, menandakan kompleksitas struktur tektonik di kawasan Jabodetabek. Teknologi LiDAR resolusi tinggi berperan penting dalam memetakan morfologi permukaan secara detail dan mengidentifikasi jejak sesar yang sulit terdeteksi secara visual.
Ancaman dan Mitigasi
Interaksi antara Sesar Cisadane, Sesar Baribis, dan Sesar Citarik menunjukkan bahwa Jabodetabek berada di atas sistem tektonik yang saling berkaitan. Kondisi ini memperkuat urgensi pemetaan detail, kajian lanjutan, serta perencanaan mitigasi risiko gempa, mengingat kawasan ini merupakan pusat ekonomi dan pemerintahan nasional.
Sumber: beritasatu
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) berencana kembali membuka Program Magang Nasional pada tahun 2026 dengan kuota yang…
JAKARTA - WARTA BOGOR - International Football Association Board resmi menyetujui dua aturan baru terkait…
BEKASI - WARTA BOGOR - Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melakukan inspeksi mendadak (sidak)…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat sekitar 4 juta…
BOGOR-WARTA BOGOR – Senyum bahagia terlihat dari wajah para warga dhuafa di Kampung Nagrog RW…
CIBINONG - WARTA BOGOR - Bupati Bogor Rudy Susmanto tengah menyiapkan transformasi kawasan Parung menjadi…