Kolom Pembaca

Nasi Uduk Menu Favorit Sarapan Orang Indonesia, Tapi Amankah Dikonsumsi Setiap Hari? Simak Penjelasan Dokter Gizi

WARTA BOGOR – Nasi uduk masih menjadi pilihan sarapan favorit banyak masyarakat Indonesia. Selain mudah ditemukan, menu ini dinilai praktis dan mengenyangkan untuk mengawali aktivitas pagi.

Namun, amankah nasi uduk dikonsumsi sebagai menu sarapan?

Dokter spesialis gizi, Johanes Chandrawinata, mengatakan konsumsi nasi di pagi hari pada dasarnya tidak menjadi masalah, termasuk nasi uduk.

Advertisement

Meski begitu, ia mengingatkan masyarakat agar tetap memperhatikan komposisi gizi dan porsi.

“Tidak apa-apa sarapan nasi uduk, tapi tetap harus hati-hati. Nasi uduk dimasak dengan santan, lalu lauknya sering berupa tahu goreng, tempe goreng, yang kalorinya tinggi semua. Jadi sebaiknya jangan terlalu sering,” ujar Johanes, dikutip dari CNNIndonesia.com, Jumat (16/1/2026).

Ia menjelaskan, porsi makan ideal dapat mengikuti konsep “isi piringku”, yakni setengah piring diisi sayur dan buah, sedangkan sisanya diisi sumber protein dan karbohidrat.

Advertisement

Nasi uduk yang dimasak dengan santan memiliki kandungan lemak jenuh lebih tinggi dibanding nasi putih biasa. Selain itu, lauk pendamping seperti ayam goreng, tahu-tempe goreng, kerupuk, hingga sambal santan turut menambah asupan lemak dan kalori.

“Orang Indonesia sering makan nasi sampai satu piring penuh. Dari sisi kesehatan itu tidak baik karena bisa menyebabkan asupan kalori berlebihan,” jelasnya.

Konsumsi berlebihan, terutama jika dilakukan setiap hari, berpotensi meningkatkan berat badan dan dalam jangka panjang dapat memicu gangguan metabolik.

Advertisement

Meski demikian, Johanes menegaskan nasi uduk bukanlah makanan terlarang. Menu ini tetap boleh dikonsumsi sesekali, asalkan diimbangi dengan pilihan makanan yang lebih sehat di hari lainnya.

“Kalau seminggu sekali masih oke. Tapi di hari-hari lain sebaiknya pilih menu yang lebih sehat,” katanya.

Agar lebih ramah bagi kesehatan, ia menyarankan porsi nasi tidak berlebihan, mengurangi gorengan dan kerupuk, serta memilih lauk sumber protein rendah lemak seperti telur rebus atau ayam tanpa kulit. Penambahan sayur juga dianjurkan untuk melengkapi kebutuhan gizi.

Advertisement

Johanes menambahkan, protein dalam menu sarapan penting untuk membantu tubuh kenyang lebih lama sekaligus menjaga daya tahan tubuh.

“Protein itu penting supaya kita tidak cepat lapar dan bisa tetap produktif,” tutupnya.

 

Advertisement
Share

Recent Posts

Pemkot Bogor Renovasi GOR Pajajaran, Perkuat Ekosistem Olahraga Kota Bogor

BOGOR - WARTA BOGOR - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas…

37 minutes ago

Pemprov Jabar Kaji Pemberlakuan Kembali SPP untuk SMA dan SMK Negeri

JABAR - WARTA BOGOR - Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama DPRD Jawa Barat tengah mengkaji…

15 hours ago
Advertisement

Komdigi Dukung Pembatasan Gadget di Sekolah, Lindungi Ancaman Negatif Digital

JAKARTA - WARTA BOGOR - Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Meutya Hafid menyambut baik kebijakan…

21 hours ago

Prabowo Kumpulkan Sejumlah Menteri Bahas Peran KDMP, Ini Hasilnya

JAKARTA - WARTA BOGOR - Presiden Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas bersama sejumlah menteri Kabinet…

23 hours ago

Menteri Koperasi Jelaskan Skema Penggajian Pegawai Koperasi Merah Putih

JAKARTA - WARTA BOGOR - Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono mengatakan gaji pegawai Koperasi Desa/Kelurahan…

1 day ago

Polisi Ungkap Motif Pelajar Bawa Bom Rakitan di MAN 3 Padang, Diduga Korban Bullying

PADANG - WARTA BOGOR - Polisi mengungkap dugaan motif pelajar berinisial R (17) yang membawa…

2 days ago