JAKARTA-WARTA BOBOR – Kamis,15 Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan telah menerima informasi bahwa pembunuhan terhadap pengunjuk rasa di Iran telah dihentikan. Meskipun demikian, ia menegaskan akan terus memantau situasi sebelum memutuskan apakah akan melanjutkan ancaman aksi militer terhadap Teheran.
Pernyataan ini disampaikan Trump di Gedung Putih setelah ia mendapatkan jaminan dari sumber penting di pihak Iran. Menurutnya, rencana eksekusi massal yang seharusnya dilakukan pada hari pengumuman tersebut telah dibatalkan oleh otoritas setempat. “Mereka mengatakan pembunuhan telah berhenti dan eksekusi tidak akan dilakukan. Seharusnya ada banyak eksekusi hari ini, tetapi itu tidak akan terjadi, dan kami akan segera mengetahuinya,” ujar Trump di Ruang Oval seperti yang dikutip AFP.
Walaupun telah menerima jaminan tersebut, Trump mengakui bahwa Amerika Serikat belum melakukan verifikasi independen terkait klaim tersebut. Saat ditanya mengenai kemungkinan pembatalan serangan militer, ia hanya menjawab, “Kami akan mengawasinya dan melihat bagaimana prosesnya nanti.”
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kemudian mengonfirmasi dalam wawancara dengan Fox News bahwa tidak akan ada hukuman gantung dalam waktu dekat. “Saya dapat katakan, saya yakin tidak ada rencana untuk hukuman gantung,” tegasnya, sambil menuduh Israel sebagai dalang kekerasan yang terjadi.
Sebelumnya, lembaga hak asasi manusia melaporkan bahwa eksekusi Erfan Soltani, seorang pria berusia 26 tahun yang ditangkap saat protes, telah ditangguhkan. Pembatalan ini menjadi titik terang kecil di tengah gejolak yang menurut aktivis telah menelan sedikitnya 3.428 korban jiwa.
Araghchi menegaskan bahwa pemerintah Iran kini telah mengendalikan situasi dengan penuh dan kondisi telah kembali tenang setelah apa yang disebutnya sebagai “operasi teroris”. Namun, Iran tetap menunjukkan sikap menantang terhadap potensi serangan AS dengan memamerkan kemampuan serangan balas mereka. Penasihat senior pemimpin tertinggi Iran, Ali Shamkhani, mengingatkan Trump bahwa serangan Iran ke pangkalan Al Udeid sebelumnya adalah bukti nyata kemauan dan kapabilitas negaranya untuk menanggapi setiap serangan yang datang.
Ketegangan ini membuat kawasan Timur Tengah berada dalam kewaspadaan tinggi. Kedutaan besar Inggris di Teheran bahkan melakukan penutupan sementara karena alasan keamanan, dan maskapai Lufthansa juga memutuskan untuk menghindari wilayah udara Iran dan Irak hingga pemberitahuan lebih lanjut akibat ancaman dari AS.
Sejak protes meletus – yang disebut sebagai gerakan terbesar sejak Revolusi Islam 1979 – Trump telah berulang kali mengancam akan melakukan intervensi militer untuk membantu rakyat Iran melawan sistem teokratis. Otoritas Iran dihadapkan dengan tuduhan menggunakan tindakan represif yang sangat keras, termasuk pemadaman internet selama 144 jam untuk menutupi tindakan keras terhadap demonstran, seperti yang dilaporkan lembaga pemantau. Amnesty International bahkan menuduh otoritas setempat melakukan pembunuhan massal di luar hukum dalam skala brutal yang belum pernah terjadi.
Negara-negara G7 juga menyatakan keprihatinan mendalam atas tingginya angka kematian dan cedera, serta memperingatkan akan adanya sanksi tambahan jika pemerintah Iran tidak segera menghentikan tindakan keras terhadap warga sipil.
Sumber: CNBC Indonesia
JAKARTA - WARTA BOGOR - Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional…
WARTA BOGOR - Masyarakat diimbau untuk mewaspadai maraknya informasi palsu atau hoaks terkait rekrutmen petugas…
JAKARTA-WARTA BOGOR – Terobosan baru dalam pengembangan baterai mobil listrik telah dicapai oleh peneliti dari Pohang…
BOGOR-WARTA BOGOR – Sebanyak 12 pejabat di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor resmi melaksanakan upacara…
JAKARTA - WARTA BOGOR - Piala Dunia 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni–19 Juli…
JAKARTA-WARTA BOGOR--Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti kebijakan pemerintah yang akan mengangkat pegawai Satuan Pelayanan…