Nasional

Program Biodiesel B50 Dimulai Juli 2026, Impor Solar Dipangkas 5 Juta Ton

JAKARTA – WARTA BOGOR – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa penerapan biodiesel B50 campuran 50 persen minyak sawit dengan 50 persen solar akan memberikan dampak signifikan bagi perekonomian nasional, termasuk dalam menekan impor energi.

Program B50 dijadwalkan mulai berjalan pada 1 Juli 2026 melalui kolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang dipimpin Bahlil Lahadalia.

Dengan implementasi tersebut, pemerintah menargetkan Indonesia tidak lagi mengimpor sekitar 5 juta ton solar pada tahun ini.

Advertisement

“B50 ini kolaborasi dengan Pak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia), 1 Juli jalan, dan target kita tahun ini tidak impor solar 5 juta ton. Yang pertama pangan aman, protein sudah aman, solar tidak impor 5 juta ton tahun ini,” ujar Amran, Senin (20/4/2026).

Selain mengurangi ketergantungan impor, kebijakan ini juga dinilai berdampak positif terhadap sektor perkebunan kelapa sawit. Sebagian produksi Crude Palm Oil (CPO) dialihkan untuk kebutuhan biofuel, yang turut mendorong kenaikan harga sawit di pasar global.

Dari total ekspor sekitar 26 juta ton, sebanyak 5,3 juta ton CPO dialokasikan untuk program B50. Menurut Amran, langkah ini berdampak pada kenaikan harga global yang pada akhirnya mendorong peningkatan produktivitas petani.

Advertisement

“Ekspor kita 26 juta (ton), kita tarik 5,3 juta menjadi biofuel, tentu harga dunia naik. Begitu harga dunia naik, petani tambah giat untuk bekerja, akhirnya produktivitasnya naik. Kami tidak pernah prediksi naik 6 juta ton. Gapki sudah lapor, dan itu kebanggaan kita,” tuturnya.

Pemerintah juga memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan mengganggu pasokan minyak goreng dalam negeri. Amran menegaskan bahwa alokasi bahan baku untuk energi dan konsumsi masyarakat telah dipisahkan secara jelas.

Ia turut menyoroti adanya potensi permainan harga di tengah kondisi pasokan yang melimpah.

Advertisement

“Beras melimpah, minyak goreng melimpah, tetapi harga naik. Berarti apa? Ada mafia di tengahnya,” tegasnya.

Sebagai produsen CPO terbesar di dunia, Indonesia menguasai sekitar 60 persen pasar global. Meskipun sebagian produksi dialihkan untuk kebutuhan biofuel, ekspor nasional justru meningkat dari sekitar 26 juta ton menjadi 32 juta ton.

 

Advertisement

 

 

 

Advertisement

Sumber: Beritasatu

 

Advertisement
Share

Recent Posts

Tugas Universitas Republik Indonesia yang Dibentuk oleh Presiden Prabowo

JAKARTA - WARTA BOGOR - Presiden Prabowo Subianto resmi melantik Donny Ermawan sebagai Gubernur dan…

1 day ago

Efek Jera! Dishub Kota Bogor Bakal Terapkan Denda Parkir Liar, Bisa Kena Rp500 Ribu

BOGOR - WARTA BOGOR - Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor tengah mempersiapkan regulasi baru yang…

2 days ago
Advertisement

Mulai September, Pemerintah Pastikan seluruh Bansos Disalurkan Melalui Kopdes Merah Putih

JAKARTA - WARTA BOGOR - Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan agar seluruh bantuan sosial (bansos) dan…

2 days ago

Dedi Mulyadi Janjikan Hadiah Rp5 Juta-Rp50 Juta Bagi Warga yang Lumpuhkan Pelaku Kejahatan

JABAR - WARTA BOGOR - Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjanjikan hadiah bagi warga yang…

2 days ago

Sampah Jadi Listrik, Bogor Bangun Dua PSEL Berkapasitas 2.500 Ton Sampah per Hari

BOGOR - WARTA BOGOR - Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menegaskan komitmennya dalam mengatasi persoalan sampah…

3 days ago

Tak Ingin Bebani APBD, DPRD Bogor Usulkan Skema Baru Subsidi Biskita

BOGOR - WARTA BOGOR - DPRD Kota Bogor memberikan sejumlah catatan strategis dalam pembahasan Pertanggungjawaban…

3 days ago